Pondok Assyifa Bang Bari 082254825060
Rumah Quran Ratu Assyifa 082154442690
Rumah Herbal Indonesia 082213485345
Selasa, 3 Nov 2026 Kat : Edukasi Kesehatan

Mengapa Pasien Stroke Sering Menangis atau Marah? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sudah Dibaca Sebanyak : 8 Kali

Abstrak

Stroke merupakan gangguan neurologis yang tidak hanya memengaruhi kemampuan bergerak, berbicara, dan berpikir, tetapi juga dapat menyebabkan perubahan emosi serta perilaku. Sebagian pasien stroke mengalami tangisan mendadak, mudah marah, tersinggung, atau menunjukkan perubahan suasana hati yang sulit dikendalikan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kerusakan jaringan otak, gangguan pengaturan emosi, depresi pascastroke (post-stroke depression), kecemasan (anxiety), maupun gangguan ekspresi emosi yang disebut pseudobulbar affect (PBA). Artikel ini bertujuan menjelaskan penyebab perubahan emosi pada pasien stroke, perbedaan gangguan neurologis dan psikologis, serta pendekatan penanganan melalui evaluasi medis, rehabilitasi, dukungan keluarga, dan intervensi psikososial.

Kata kunci: emosi pasien stroke, pasien stroke sering menangis, pasien stroke mudah marah, pseudobulbar affect, depresi pascastroke, perubahan perilaku pascastroke.

Pendahuluan

Stroke merupakan salah satu penyakit serebrovaskular (cerebrovascular disease) yang terjadi akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan saraf yang berperan dalam berbagai fungsi tubuh.Dampak stroke sering terlihat melalui kelemahan anggota gerak, gangguan keseimbangan, atau kesulitan berbicara. Namun, tidak semua akibat stroke tampak secara fisik.Sebagian pasien mengalami perubahan emosional setelah serangan stroke, seperti mudah menangis, cepat marah, merasa sedih, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.

Perubahan tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam keluarga. Pasien mungkin dianggap terlalu sensitif, kurang sabar, atau sengaja menunjukkan perilaku tertentu.Padahal, perubahan emosi setelah stroke dapat berkaitan dengan gangguan neurologis maupun tekanan psikologis akibat perubahan kondisi kesehatan.

Menurut Towfighi et al. (2017), depresi merupakan salah satu komplikasi psikologis penting setelah stroke yang dapat memengaruhi proses rehabilitasi dan kualitas hidup.Oleh karena itu, perubahan emosi pada pasien stroke perlu dipahami sebagai kondisi yang membutuhkan perhatian dan penilaian kesehatan secara menyeluruh.

Mengapa Pasien Stroke Sering Menangis atau Marah?

1. Kerusakan Bagian Otak yang Mengatur Emosi

Otak memiliki jaringan kompleks yang berperan dalam mengatur emosi, perilaku, dan respons terhadap lingkungan.Salah satu jaringan penting adalah sistem limbik (limbic system), yang melibatkan struktur seperti amigdala (amygdala) dan hipokampus (hippocampus).Selain itu, korteks prefrontal (prefrontal cortex) berperan dalam pengendalian impuls, pengambilan keputusan, dan pengaturan respons emosional.

Stroke yang mengenai jaringan atau jalur penghubung tersebut dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengendalikan ekspresi emosi.Akibatnya, pasien dapat menjadi lebih mudah tersinggung, menangis, atau mengalami perubahan suasana hati.Namun, hubungan antara lokasi kerusakan otak dan perubahan emosi tidak selalu sederhana. Gejala dapat dipengaruhi oleh luas lesi, kondisi psikologis, dan faktor kesehatan lainnya.

2. Pseudobulbar Affect (PBA)

Salah satu penyebab pasien stroke sering menangis secara tiba-tiba adalah pseudobulbar affect (PBA).PBA merupakan gangguan neurologis yang menyebabkan episode menangis atau tertawa yang sulit dikendalikan.Ekspresi emosi tersebut dapat muncul secara mendadak, berlebihan, atau tidak sesuai dengan perasaan yang sebenarnya dialami pasien.Sebagai contoh, pasien dapat menangis ketika sedang berbicara mengenai hal biasa, meskipun tidak merasa sangat sedih.

Pada kondisi lain, pasien dapat tertawa dalam situasi yang tidak dianggap lucu.PBA diduga berkaitan dengan gangguan jaringan saraf yang mengatur ekspresi emosi.Kondisi ini berbeda dengan depresi karena episode menangis pada PBA biasanya berlangsung relatif singkat dan tidak selalu disertai suasana hati sedih yang menetap.

PBA memerlukan evaluasi dokter karena penanganannya berbeda dari gangguan suasana hati lainnya.

3. Depresi Pascastroke (Post-Stroke Depression)

Depresi pascastroke merupakan gangguan suasana hati yang dapat terjadi setelah seseorang mengalami stroke.Pasien dapat mengalami kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat, mudah menangis, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, serta perasaan tidak berdaya.

Depresi setelah stroke dapat berkaitan dengan perubahan biologis pada otak, keterbatasan fisik, kehilangan kemandirian, dan tekanan sosial.Berbeda dengan PBA, depresi biasanya melibatkan perubahan suasana hati yang lebih menetap.Menurut Hackett dan Pickles (2014), depresi merupakan masalah yang cukup sering ditemukan pada penyintas stroke.Oleh karena itu, pasien yang mengalami kesedihan berkepanjangan perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan depresi.

4. Kecemasan Pascastroke (Post-Stroke Anxiety)

Kecemasan merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa takut, khawatir, atau ketegangan berlebihan.Pasien stroke dapat mengalami kecemasan karena takut mengalami serangan berulang, khawatir tidak dapat berjalan kembali, atau merasa menjadi beban keluarga.Kecemasan dapat menyebabkan pasien sulit tidur, gelisah, mudah tersinggung, serta menunjukkan respons emosional yang lebih kuat.

Pada sebagian pasien, kecemasan dapat muncul bersamaan dengan depresi.Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi motivasi mengikuti rehabilitasi dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

5. Frustrasi Akibat Keterbatasan Fisik dan Komunikasi

Setelah stroke, sebagian pasien mengalami kelemahan anggota gerak (hemiparesis), kelumpuhan (hemiplegia), atau gangguan berbicara seperti afasia (aphasia).Perubahan kemampuan tubuh dapat menyebabkan pasien merasa kehilangan kemandirian.Pasien yang sebelumnya mampu bekerja, berjalan, atau melakukan aktivitas tanpa bantuan mungkin harus bergantung pada anggota keluarga.Kesulitan menyampaikan kebutuhan juga dapat menimbulkan frustrasi.

Sebagai contoh, pasien dengan afasia mungkin memahami apa yang ingin disampaikan, tetapi kesulitan menemukan kata yang tepat.Situasi tersebut dapat menyebabkan pasien terlihat marah atau menangis karena merasa tidak dipahami.Respons ini tidak selalu menunjukkan gangguan kejiwaan, tetapi dapat merupakan reaksi terhadap hambatan komunikasi dan perubahan kehidupan.

Apakah Perubahan Emosi Pasien Stroke Berbahaya?

Perubahan emosi setelah stroke tidak selalu menunjukkan kondisi berbahaya. Namun, gejala yang berat atau berkepanjangan dapat mengganggu proses pemulihan.Pasien yang mengalami depresi atau kecemasan mungkin mengalami penurunan motivasi, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan berkurangnya partisipasi dalam rehabilitasi.Perubahan perilaku juga dapat meningkatkan ketegangan dalam hubungan keluarga apabila tidak dipahami dengan baik.Pada kondisi tertentu, perubahan emosi dapat berkaitan dengan delirium (delirium), yaitu gangguan kesadaran dan perhatian yang muncul secara akut.

Delirium dapat dipicu oleh infeksi, gangguan metabolisme, efek obat, atau kondisi medis lainnya.Apabila pasien tiba-tiba menjadi sangat bingung, gelisah berat, mengalami perubahan kesadaran, atau menunjukkan gangguan neurologis baru, diperlukan pemeriksaan medis segera.

Cara Mengatasi Pasien Stroke yang Sering Menangis atau Marah

1. Melakukan Pemeriksaan Medis

Langkah pertama adalah mencari penyebab perubahan emosi.Dokter dapat melakukan evaluasi neurologis, pemeriksaan kondisi kesehatan umum, serta penilaian kemungkinan depresi, kecemasan, atau PBA.Pemeriksaan penting karena gejala yang terlihat serupa dapat memiliki penyebab berbeda.Penanganan kemudian disesuaikan dengan diagnosis dan kebutuhan pasien.

2. Memberikan Dukungan Emosional

Keluarga perlu memahami bahwa perubahan emosi pasien stroke dapat dipengaruhi oleh kondisi neurologis maupun psikologis.Ketika pasien menangis atau marah, hindari langsung menyalahkan atau memaksanya menghentikan emosi.Berikan kesempatan untuk menyampaikan perasaan dan kebutuhan.Komunikasi yang tenang serta sikap menghargai dapat membantu mengurangi ketegangan.

3. Melakukan Rehabilitasi Psikologis

Pasien yang mengalami depresi atau kecemasan dapat memperoleh manfaat dari intervensi psikologis sesuai hasil pemeriksaan.Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy atau CBT), dengan penyesuaian terhadap kemampuan komunikasi dan kognitif pasien.

Intervensi tersebut bertujuan membantu pasien mengenali pola pikir yang mengganggu, mengembangkan strategi menghadapi tekanan, dan meningkatkan kemampuan adaptasi.Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pengobatan antidepresan.Pemilihan obat harus mempertimbangkan kondisi medis, interaksi obat, dan risiko efek samping.

4. Menangani Gangguan Ekspresi Emosi

Apabila pasien didiagnosis mengalami PBA, dokter dapat mempertimbangkan terapi farmakologis yang sesuai.Beberapa obat telah diteliti untuk membantu mengurangi frekuensi episode menangis atau tertawa yang tidak terkendali.Namun, penggunaan obat harus berdasarkan evaluasi dokter dan tidak boleh dilakukan secara mandiri.

5. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Pada pasien dengan afasia atau disartria (dysarthria), terapi wicara dapat membantu meningkatkan kemampuan berkomunikasi.Keluarga dapat menggunakan kalimat sederhana, berbicara perlahan, serta memberikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespons.Penggunaan gambar, tulisan, atau papan komunikasi juga dapat membantu pasien menyampaikan kebutuhan.Dengan komunikasi yang lebih efektif, sebagian frustrasi akibat kesulitan berbicara dapat berkurang.

6. Memberikan Dukungan Spiritual

Dukungan spiritual dapat menjadi bagian dari pendekatan perawatan holistik (holistic nursing care).Bagi pasien Muslim yang menghendakinya, kegiatan seperti berdoa, berzikir, membaca atau mendengarkan murottal Al-Qur’an dapat membantu menciptakan suasana yang nyaman dan mendukung ketenangan emosional.Namun, pendekatan spiritual merupakan pendamping perawatan dan tidak menggantikan pemeriksaan medis, terapi psikologis, atau pengobatan yang diperlukan.

Peran Keluarga dalam Menghadapi Perubahan Emosi Pasien Stroke

Keluarga memiliki peran penting dalam mendampingi pasien selama proses pemulihan.Anggota keluarga perlu memahami bahwa perubahan perilaku setelah stroke tidak selalu dilakukan secara sengaja.Menciptakan lingkungan yang tenang, menjaga rutinitas harian, serta memberikan dukungan ketika pasien mengalami kesulitan dapat membantu meningkatkan kenyamanan.Keluarga juga perlu memperhatikan kondisi emosional pengasuh atau caregiver, karena proses merawat pasien stroke dapat menimbulkan kelelahan fisik maupun psikologis.Apabila perubahan emosi pasien semakin berat atau mengganggu keselamatan, keluarga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Pasien stroke dapat mengalami perubahan emosi berupa sering menangis, mudah marah, tersinggung, atau mengalami perubahan suasana hati.Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan otak yang mengatur emosi, pseudobulbar affect, depresi pascastroke, kecemasan, serta frustrasi akibat keterbatasan fisik dan komunikasi.Penanganan memerlukan pendekatan menyeluruh melalui pemeriksaan medis, rehabilitasi, dukungan psikologis, komunikasi yang efektif, dan keterlibatan keluarga.

Daftar Pustaka Ilmiah

1. Towfighi, A., Ovbiagele, B., El Husseini, N., et al. (2017). Poststroke depression: A scientific statement for healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 48(2), e30–e43. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000113

2. Hackett, M. L., & Pickles, K. (2014). Part I: Frequency of depression after stroke: An updated systematic review and meta-analysis of observational studies. International Journal of Stroke, 9(8), 1017–1025. https://doi.org/10.1111/ijs.12357

3. Miller, A., Pratt, H., & Schiffer, R. B. (2011). Pseudobulbar affect: The spectrum of clinical presentations, etiologies and treatments. Expert Review of Neurotherapeutics, 11(7), 1077–1088. https://doi.org/10.1586/ern.11.68

4. Ayerbe, L., Ayis, S. A., Crichton, S., Wolfe, C. D. A., & Rudd, A. G. (2014). The natural history of depression up to 15 years after stroke: The South London Stroke Register. Stroke, 45(4), 1105–1110. https://doi.org/10.1161/STROKEAHA.113.004266

5. Winstein, C. J., Stein, J., Arena, R., et al. (2016). Guidelines for adult stroke rehabilitation and recovery. Stroke, 47(6), e98–e169. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000098

6. National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Stroke rehabilitation in adults (NG236). https://www.nice.org.uk/guidance/ng236

Informasi Publik Lainnya