Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di berbagai negara. Salah satu faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi adalah kurangnya aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang rendah dapat memengaruhi kesehatan sistem kardiovaskular, meningkatkan tekanan darah, menyebabkan penumpukan lemak tubuh, serta mengganggu metabolisme glukosa dan lipid. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit pembuluh darah otak. Artikel ini bertujuan membahas hubungan kurangnya aktivitas fisik dengan risiko stroke berdasarkan kajian literatur ilmiah. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur naratif dengan mengacu pada penelitian epidemiologi, pedoman kesehatan, dan publikasi ilmiah mengenai aktivitas fisik serta penyakit serebrovaskular. Hasil kajian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat aktivitas fisik rendah cenderung memiliki risiko stroke lebih tinggi dibandingkan individu yang aktif secara fisik. Aktivitas fisik teratur berperan dalam mengendalikan tekanan darah, meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki profil lipid, dan menjaga fungsi pembuluh darah. Oleh karena itu, peningkatan aktivitas fisik merupakan salah satu strategi penting dalam pencegahan primer stroke.
Kata kunci: stroke, aktivitas fisik, gaya hidup sedentari, faktor risiko, pencegahan stroke.
Stroke menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius karena dapat menyebabkan gangguan neurologis permanen, penurunan produktivitas, serta meningkatnya kebutuhan perawatan jangka panjang. Penyakit ini tidak hanya terjadi pada kelompok lanjut usia, tetapi juga dapat menyerang individu usia produktif yang memiliki faktor risiko tertentu. Perubahan gaya hidup masyarakat modern menyebabkan aktivitas fisik semakin berkurang. Penggunaan kendaraan bermotor, pekerjaan yang mengharuskan seseorang duduk dalam waktu lama, serta meningkatnya penggunaan perangkat elektronik berkontribusi terhadap rendahnya aktivitas tubuh dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut World Health Organization (WHO, 2020), aktivitas fisik merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit tidak menular. Kurangnya aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, dan gangguan metabolisme. Dalam konteks stroke, aktivitas fisik memiliki peran penting karena membantu menjaga kestabilan tekanan darah, meningkatkan fungsi jantung, serta memperbaiki sirkulasi darah. Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk sejumlah faktor risiko vaskular yang berhubungan dengan kejadian stroke.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai hubungan kurangnya aktivitas fisik dengan risiko stroke diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat.
Stroke atau cerebrovascular disease merupakan kondisi patologis yang terjadi ketika jaringan otak mengalami gangguan suplai darah akibat kelainan pada pembuluh darah serebral. Gangguan tersebut dapat mengakibatkan penurunan ketersediaan oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi sel saraf. Dalam keadaan normal, otak membutuhkan aliran darah yang stabil untuk mendukung proses metabolisme dan penghantaran impuls saraf. Apabila aliran darah mengalami penyumbatan atau terjadi perdarahan, jaringan otak dapat mengalami cedera yang menimbulkan gangguan fungsi neurologis.
Berdasarkan mekanisme terjadinya, stroke dibedakan menjadi stroke iskemik (ischemic stroke) dan stroke hemoragik (hemorrhagic stroke). Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah, sedangkan stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Manifestasi klinis stroke dapat berupa kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, perubahan penglihatan, gangguan keseimbangan, serta penurunan kesadaran. Gejala umumnya muncul secara mendadak dan memerlukan penanganan medis segera.
Menurut Kuriakose dan Xiao (2020), mekanisme terjadinya stroke melibatkan berbagai proses patologis, termasuk gangguan perfusi serebral, kerusakan sel saraf, inflamasi, dan perubahan fungsi pembuluh darah.
Aktivitas fisik atau physical activity merupakan setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka dan membutuhkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik mencakup kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki, membersihkan rumah, berkebun, bersepeda, bekerja, maupun melakukan olahraga.
Aktivitas fisik dapat dikelompokkan berdasarkan intensitasnya menjadi aktivitas ringan, sedang, dan berat. Aktivitas ringan meliputi berjalan santai dan pekerjaan rumah sederhana. Aktivitas sedang meliputi berjalan cepat dan bersepeda santai, sedangkan aktivitas berat dapat berupa berlari atau olahraga intensitas tinggi. Kurangnya aktivitas fisik atau physical inactivity merupakan keadaan ketika seseorang tidak mencapai tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan untuk memperoleh manfaat kesehatan.
WHO (2020) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, disertai latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu.
Kurangnya aktivitas fisik perlu dibedakan dari perilaku sedentari (sedentary behaviour), yaitu perilaku dalam keadaan terjaga dengan pengeluaran energi sangat rendah saat duduk, bersandar, atau berbaring.
Kurangnya aktivitas fisik berhubungan dengan peningkatan risiko stroke melalui berbagai mekanisme fisiologis dan metabolik. Salah satu mekanisme utamanya adalah peningkatan tekanan darah. Individu yang jarang bergerak cenderung memiliki kebugaran kardiovaskular yang lebih rendah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap hipertensi, yang merupakan salah satu faktor risiko utama stroke.
Selain itu, kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan penumpukan jaringan lemak, khususnya lemak abdominal. Kondisi tersebut berkaitan dengan resistensi insulin, gangguan metabolisme lipid, serta peningkatan risiko aterosklerosis (atherosclerosis). Aterosklerosis merupakan proses penumpukan plak pada dinding arteri yang dapat mempersempit pembuluh darah dan mengganggu aliran darah menuju otak. Apabila terjadi penyumbatan pada pembuluh darah serebral, individu dapat mengalami stroke iskemik.
Penelitian Lee et al. (2003) melalui meta-analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik pada tingkat sedang maupun tinggi berhubungan dengan penurunan risiko stroke dibandingkan aktivitas fisik yang rendah. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas fisik bukan hanya bermanfaat untuk kebugaran tubuh, tetapi juga berperan dalam perlindungan kesehatan pembuluh darah otak.
Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan penurunan kemampuan sistem kardiovaskular dalam menyesuaikan diri terhadap kebutuhan metabolisme tubuh. Individu yang tidak aktif secara fisik lebih berisiko mengalami peningkatan tekanan darah, obesitas, gangguan kadar kolesterol, dan diabetes melitus tipe 2. Faktor-faktor tersebut dapat saling berinteraksi sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya gangguan pembuluh darah.
Aktivitas fisik teratur membantu meningkatkan fungsi endotel, yaitu lapisan sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Endotel yang sehat berperan dalam mengatur pelebaran pembuluh darah, respons inflamasi, serta keseimbangan proses pembekuan darah. Sebaliknya, gangguan fungsi endotel dapat berkontribusi terhadap perkembangan aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular.
Menurut Benjamin et al. (2019), perilaku kesehatan, termasuk aktivitas fisik, merupakan komponen penting dalam pengendalian faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Pencegahan stroke melalui aktivitas fisik dapat dimulai dengan perubahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dianjurkan membiasakan berjalan kaki, menggunakan tangga, mengurangi waktu duduk terlalu lama, dan melakukan olahraga secara teratur sesuai kemampuan fisik.
Aktivitas aerobik seperti berjalan cepat, berenang, dan bersepeda dapat membantu meningkatkan kebugaran jantung serta mengendalikan tekanan darah. Latihan penguatan otot juga diperlukan untuk mempertahankan kemampuan fungsional tubuh. Bagi individu dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau keterbatasan fisik, jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan anjuran tenaga medis. Perawat memiliki peran penting dalam memberikan edukasi, melakukan pengkajian faktor risiko, serta membantu pasien menyusun rencana aktivitas fisik yang realistis dan berkelanjutan.
Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup. Rendahnya aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi, obesitas, resistensi insulin, dan aterosklerosis yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya stroke. Berdasarkan berbagai penelitian epidemiologi, individu yang aktif secara fisik cenderung memiliki risiko stroke lebih rendah dibandingkan individu yang kurang aktif. Meskipun demikian, hubungan tersebut dipengaruhi pula oleh faktor usia, kondisi kesehatan, pola makan, kebiasaan merokok, dan faktor risiko lainnya.
Penerapan aktivitas fisik secara teratur, edukasi kesehatan, serta pengendalian faktor risiko kardiovaskular merupakan langkah penting dalam upaya pencegahan stroke dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Benjamin, E. J., Muntner, P., Alonso, A., et al. (2019). Heart disease and stroke statistics—2019 update: A report from the American Heart Association. Circulation, 139(10), e56–e528. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000000659
Kuriakose, D., & Xiao, Z. (2020). Pathophysiology and treatment of stroke: Present status and future perspectives. International Journal of Molecular Sciences, 21(20), 7609. https://doi.org/10.3390/ijms21207609
Lee, C. D., Folsom, A. R., & Blair, S. N. (2003). Physical activity and stroke risk: A meta-analysis. Stroke, 34(10), 2475–2481. https://doi.org/10.1161/01.STR.0000091843.02517.9D
World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128
Bull, F. C., Al-Ansari, S. S., Biddle, S., et al. (2020). World Health Organization 2020 guidelines on physical activity and sedentary behaviour. British Journal of Sports Medicine, 54(24), 1451–1462. https://doi.org/10.1136/bjsports-2020-102955
O’Donnell, M. J., Chin, S. L., Rangarajan, S., et al. (2016). Global and regional effects of potentially modifiable risk factors associated with acute stroke in 32 countries (INTERSTROKE): A case-control study. The Lancet, 388(10046), 761–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)30506-2