Pondok Assyifa Bang Bari 082254825060
Rumah Quran Ratu Assyifa 082154442690
Rumah Herbal Indonesia 082213485345
Jumat, 23 Okt 2026 Kat : Edukasi Kesehatan

GAMBARAN FAKTOR RISIKO STROKE PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT: TINJAUAN EPIDEMIOLOGI DAN KARAKTERISTIK KLINIS

Sudah Dibaca Sebanyak : 10 Kali

Abstrak

Stroke merupakan gangguan serebrovaskular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Pasien stroke yang menjalani perawatan di rumah sakit umumnya memiliki karakteristik faktor risiko yang beragam, baik faktor yang tidak dapat dimodifikasi maupun faktor yang dapat dikendalikan. Faktor risiko tersebut meliputi usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, hipertensi, diabetes melitus, fibrilasi atrium, dislipidemia, serta riwayat stroke sebelumnya. Artikel ini bertujuan menguraikan gambaran faktor risiko stroke pada pasien rumah sakit berdasarkan pendekatan epidemiologis dan klinis. Metode yang digunakan adalah tinjauan naratif terhadap literatur ilmiah, bukan penelitian yang mengumpulkan data langsung dari pasien. Identifikasi faktor risiko secara sistematis di rumah sakit berperan penting dalam menentukan strategi pengobatan, pencegahan stroke berulang, dan perencanaan asuhan keperawatan.

Kata kunci: stroke, faktor risiko, pasien rawat inap, epidemiologi, karakteristik klinis, keperawatan.

1. Pendahuluan

Stroke adalah kondisi neurologis akut yang ditandai oleh gangguan fungsi otak akibat terhambatnya aliran darah atau terjadinya perdarahan intrakranial. Stroke iskemik disebabkan oleh gangguan suplai darah ke jaringan otak, sedangkan stroke hemoragik terjadi akibat perdarahan dari pembuluh darah di dalam atau sekitar otak.

Dalam pelayanan rumah sakit, pasien stroke sering ditemukan dengan berbagai penyakit penyerta yang dapat memperberat kondisi klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan faktor risiko merupakan bagian penting dari penilaian awal, selain pemeriksaan neurologis dan pencitraan otak.

Menurut GBD 2019 Stroke Collaborators (2021), stroke merupakan salah satu penyumbang utama beban penyakit global. Tingginya angka kematian dan disabilitas menunjukkan perlunya identifikasi faktor risiko secara dini.

Berbeda dengan pembahasan mengenai pola hidup masyarakat secara umum, artikel ini menitikberatkan pada karakteristik pasien stroke yang datang ke rumah sakit, riwayat penyakit penyerta, hasil pemeriksaan klinis, serta implikasinya terhadap pelayanan keperawatan.

2. Karakteristik Demografis Pasien Stroke

A. Usia pasien

Usia merupakan salah satu faktor risiko stroke yang tidak dapat dimodifikasi. Bertambahnya usia berkaitan dengan perubahan struktur dan elastisitas pembuluh darah serta meningkatnya kemungkinan penyakit kardiovaskular.

Pada pasien rumah sakit, kelompok usia lanjut perlu mendapat perhatian khusus karena dapat memiliki lebih dari satu penyakit penyerta. Namun, stroke juga dapat terjadi pada kelompok usia produktif sehingga pemeriksaan tidak boleh hanya berfokus pada pasien lanjut usia.

Feigin et al. (2021) menunjukkan bahwa beban stroke terjadi pada berbagai kelompok usia, dengan variasi menurut wilayah dan karakteristik populasi.

B. Jenis kelamin

Jenis kelamin juga berkaitan dengan perbedaan epidemiologi stroke. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor biologis, hormonal, usia harapan hidup, serta distribusi faktor risiko kardiovaskular.

Dalam penelitian berbasis rumah sakit, jenis kelamin dicatat untuk mengetahui distribusi pasien laki-laki dan perempuan serta membandingkan karakteristik klinisnya.

Namun, proporsi pasien laki-laki yang lebih tinggi dalam suatu rumah sakit tidak secara otomatis membuktikan bahwa laki-laki memiliki risiko stroke lebih besar pada populasi umum. Kesimpulan tersebut memerlukan pembanding populasi yang sesuai.

3. Gambaran Faktor Risiko Klinis pada Pasien Stroke

A. Hipertensi

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko terpenting pada pasien stroke. Tekanan darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan pembuluh darah dan perubahan struktur arteri.

Pada pasien stroke iskemik, hipertensi berkontribusi terhadap penyakit pembuluh darah besar maupun kecil. Sementara itu, pada stroke hemoragik, hipertensi kronis dapat meningkatkan kerentanan pembuluh darah otak terhadap perdarahan.

Di rumah sakit, riwayat hipertensi, penggunaan obat antihipertensi, dan hasil pemeriksaan tekanan darah menjadi informasi penting. Perlu diperhatikan bahwa tekanan darah tinggi saat fase akut stroke tidak selalu mencerminkan hipertensi kronis sehingga penilaian riwayat medis tetap diperlukan (O’Donnell et al., 2016).

B. Diabetes melitus

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah secara kronis. Kondisi ini dapat menyebabkan disfungsi endotel, peradangan vaskular, serta percepatan aterosklerosis. Pada pasien stroke yang dirawat di rumah sakit, pemeriksaan glukosa darah dan HbA1c dapat membantu mengidentifikasi diabetes yang telah diketahui maupun yang sebelumnya belum terdiagnosis.

Diabetes juga penting dalam perencanaan perawatan karena gangguan kadar glukosa dapat memengaruhi kondisi klinis dan kebutuhan pemantauan pasien. Penelitian INTERSTROKE mengidentifikasi diabetes sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kejadian stroke (O’Donnell et al., 2016).

C. Dislipidemia

Dislipidemia merupakan gangguan kadar lemak darah, seperti peningkatan kolesterol LDL atau trigliserida. Kondisi ini dapat mempercepat pembentukan plak aterosklerosis pada pembuluh darah.

Pada pasien stroke iskemik, pemeriksaan profil lipid membantu mengevaluasi faktor risiko aterosklerosis dan menentukan kebutuhan terapi penurun kolesterol. Hubungan kadar lipid dengan stroke berbeda menurut subtipe stroke, sehingga interpretasinya perlu mempertimbangkan diagnosis klinis (Bushnell et al., 2024).

D. Fibrilasi atrium dan penyakit jantung

Fibrilasi atrium (atrial fibrillation) merupakan gangguan irama jantung yang menyebabkan kontraksi atrium tidak teratur. Kondisi ini dapat mempermudah terbentuknya bekuan darah di jantung yang kemudian berpindah menuju pembuluh darah otak.

Pada pasien rumah sakit, pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) penting untuk mendeteksi fibrilasi atrium. Pasien tertentu juga memerlukan pemantauan irama jantung lebih lanjut.

Menurut Joglar et al. (2023), penilaian risiko tromboemboli pada pasien fibrilasi atrium diperlukan untuk menentukan strategi pencegahan stroke yang tepat.

E. Riwayat stroke sebelumnya

Pasien yang pernah mengalami stroke atau transient ischemic attack (TIA) memiliki risiko mengalami kejadian serebrovaskular berikutnya.

Riwayat serangan sebelumnya merupakan informasi penting saat pasien masuk rumah sakit. Tenaga kesehatan perlu mengidentifikasi pengobatan yang digunakan, kepatuhan terapi, serta penyebab stroke sebelumnya.

Pencegahan stroke berulang harus disesuaikan dengan penyebab stroke, misalnya melalui terapi antiplatelet atau antikoagulan pada indikasi yang tepat, pengendalian tekanan darah, dan penatalaksanaan penyakit penyerta.

4. Identifikasi Faktor Risiko dalam Pelayanan Rumah Sakit

Berikut gambaran faktor risiko dan indikator pemeriksaan yang dapat digunakan dalam pengkajian pasien stroke.

Faktor risikoIndikator pengkajian di rumah sakit
UsiaUsia pasien dalam tahun
Jenis kelaminLaki-laki atau perempuan
HipertensiRiwayat diagnosis, obat, tekanan darah
Diabetes melitusRiwayat diabetes, glukosa darah, HbA1c
DislipidemiaProfil lipid dan riwayat pengobatan
Fibrilasi atriumRiwayat penyakit jantung dan hasil EKG
Riwayat stroke/TIAJumlah kejadian dan waktu serangan sebelumnya
Riwayat keluargaStroke atau penyakit kardiovaskular dalam keluarga
Kebiasaan merokokStatus merokok dan riwayat paparan
Penyakit ginjal kronisRiwayat diagnosis dan fungsi ginjal

Data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara pasien, keluarga, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, serta rekam medis.

5. Peran Perawat dalam Pengkajian Faktor Risiko Stroke

Perawat memiliki peranan penting dalam mengidentifikasi masalah kesehatan pasien sejak masuk rumah sakit. Pengkajian keperawatan dilakukan dengan mengumpulkan data subjektif dan objektif untuk menentukan kebutuhan pelayanan. Pada pasien stroke, perawat perlu memantau kondisi neurologis, tingkat kesadaran, tekanan darah, kemampuan menelan, kemampuan mobilisasi, serta risiko komplikasi selama perawatan.

Selain itu, perawat berperan dalam memberikan edukasi mengenai pengendalian penyakit penyerta, kepatuhan pengobatan, dan persiapan perawatan setelah pasien pulang. Pendekatan keperawatan yang terintegrasi dengan tim multidisiplin membantu meningkatkan kesinambungan pelayanan dan mendukung upaya pencegahan stroke berulang.

6. Pentingnya Penelitian Faktor Risiko Stroke di Rumah Sakit

Penelitian deskriptif mengenai faktor risiko stroke di rumah sakit memiliki manfaat untuk menggambarkan karakteristik pasien berdasarkan kondisi demografis dan klinis. Penelitian tersebut dapat menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan sumber data rekam medis. Hasil penelitian dapat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase.

Sebagai contoh, peneliti dapat mengidentifikasi proporsi pasien stroke yang memiliki hipertensi, diabetes, dislipidemia, atau penyakit jantung. Namun, penelitian yang hanya melibatkan pasien stroke tidak dapat menentukan besarnya risiko relatif terjadinya stroke pada masyarakat, karena tidak memiliki kelompok pembanding tanpa stroke. Penelitian tersebut lebih tepat digunakan untuk menggambarkan prevalensi faktor risiko di antara pasien stroke yang dirawat.

7. Kesimpulan

Gambaran faktor risiko stroke pada pasien rumah sakit mencakup karakteristik demografis, penyakit penyerta, dan riwayat kesehatan. Hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, fibrilasi atrium, dan riwayat stroke sebelumnya merupakan faktor penting dalam pengkajian klinis. Identifikasi faktor risiko secara sistematis membantu tenaga kesehatan memahami karakteristik pasien, menentukan kebutuhan pemeriksaan, serta menyusun strategi pencegahan stroke berulang.

Penelitian deskriptif berbasis rekam medis dapat menjadi sumber informasi bagi rumah sakit untuk mengevaluasi karakteristik pasien stroke dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

8. Daftar Pustaka Ilmiah

1. GBD 2021 Stroke Risk Factor Collaborators. (2024). Global, regional, and national burden of stroke and its risk factors, 1990–2021: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2021. The Lancet Neurology, 23(10), 973–1003. Baca jurnal.

2. O’Donnell, M. J., Chin, S. L., Rangarajan, S., et al. (2016). Global and regional effects of potentially modifiable risk factors associated with acute stroke in 32 countries (INTERSTROKE): A case-control study. The Lancet, 388(10046), 761–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)30506-2

3. Bushnell, C., Kernan, W. N., Sharrief, A. Z., et al. (2024). 2024 guideline for the primary prevention of stroke: A guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 55(12), e344–e424. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000475

4. Joglar, J. A., Chung, M. K., Armbruster, A. L., et al. (2024). 2023 ACC/AHA/ACCP/HRS guideline for the diagnosis and management of atrial fibrillation: A report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation, 149(1), e1–e156. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001193

5. Feigin, V. L., Stark, B. A., Johnson, C. O., et al. (2021). Global, regional, and national burden of stroke and its risk factors, 1990–2019: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet Neurology, 20(10), 795–820. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(21)00252-0

Informasi Publik Lainnya