
Stres merupakan respons fisiologis dan psikologis tubuh terhadap tekanan atau tuntutan yang dianggap mengancam keseimbangan individu. Stres dalam jangka pendek merupakan respons normal, tetapi stres berlebihan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk sistem kardiovaskular dan serebrovaskular. Stres kronis berkaitan dengan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, perubahan hormon kortisol, peningkatan tekanan darah, serta perilaku hidup tidak sehat. Berbagai mekanisme tersebut diduga berkontribusi terhadap peningkatan risiko stroke. Artikel ini bertujuan menjelaskan hubungan stres berlebihan dengan risiko terjadinya stroke, mekanisme biologis yang mendasarinya, faktor yang memperberat risiko, serta upaya pengelolaan stres sebagai bagian dari pencegahan penyakit serebrovaskular. Pemahaman mengenai hubungan stres dan stroke diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik secara bersamaan.
Kata kunci: stres kronis, stroke, kortisol, hipertensi, kesehatan mental, penyakit serebrovaskular.
Perubahan pola kehidupan masyarakat modern menyebabkan individu semakin sering menghadapi berbagai tekanan, baik yang berasal dari pekerjaan, kondisi ekonomi, hubungan keluarga, maupun lingkungan sosial. Tekanan tersebut dapat memicu stres yang memengaruhi keseimbangan fisik dan psikologis seseorang.
Dalam ilmu kesehatan, stres psikologis (psychological stress) merupakan respons individu ketika menghadapi tuntutan yang dinilai melebihi kemampuan untuk mengatasinya. Respons ini melibatkan perubahan aktivitas sistem saraf, hormon, dan berbagai fungsi organ tubuh.
Sementara itu, stroke merupakan gangguan neurologis akut akibat terganggunya aliran darah menuju jaringan otak. Stroke dapat berupa stroke iskemik (ischemic stroke) akibat penyumbatan pembuluh darah atau stroke hemoragik (hemorrhagic stroke) akibat perdarahan di dalam atau sekitar otak.
Stroke tidak hanya dipengaruhi oleh faktor risiko fisik, seperti hipertensi, diabetes melitus, dan kolesterol tinggi, tetapi juga dapat berkaitan dengan faktor psikososial.
Stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi tekanan darah, kualitas tidur, perilaku makan, dan aktivitas fisik. Oleh karena itu, hubungan antara stres dan risiko stroke penting dipahami sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular.
Stres berlebihan dapat terjadi ketika seseorang mengalami tekanan emosional atau psikologis yang berlangsung lama tanpa kemampuan pemulihan yang memadai.
Kondisi ini sering disebut stres kronis (chronic stress), yaitu paparan terhadap tekanan yang terus berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau lebih lama.
Ketika menghadapi stres, tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatis (sympathetic nervous system) dan sumbu hipotalamus–hipofisis–adrenal (hypothalamic–pituitary–adrenal axis atau HPA axis).
Aktivasi sistem tersebut memicu pelepasan hormon stres, seperti adrenalin (epinephrine), noradrenalin (norepinephrine), dan kortisol (cortisol).
Dalam kondisi normal, hormon tersebut membantu tubuh merespons situasi yang menantang. Namun, apabila respons stres berlangsung berkepanjangan, perubahan fisiologis yang terjadi dapat berhubungan dengan gangguan kesehatan.
Salah satu respons tubuh terhadap stres adalah peningkatan denyut jantung dan tekanan darah.
Aktivasi sistem saraf simpatis menyebabkan pembuluh darah mengalami penyempitan sementara atau vasokonstriksi (vasoconstriction).
Apabila seseorang mengalami stres berulang dan memiliki faktor risiko lain, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan pengaturan tekanan darah.
Hipertensi (hypertension) merupakan faktor risiko utama stroke, baik stroke iskemik maupun hemoragik.
Meskipun demikian, stres tidak selalu menyebabkan hipertensi menetap. Hubungannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan, kebiasaan hidup, dan respons individu terhadap tekanan.
Kortisol merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal (adrenal glands) sebagai bagian dari respons tubuh terhadap stres.
Hormon ini berperan dalam pengaturan metabolisme glukosa, respons imun, dan keseimbangan energi.
Paparan stres kronis dapat mengganggu regulasi sistem HPA sehingga pola pelepasan kortisol menjadi tidak seimbang.
Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan resistensi insulin (insulin resistance), penumpukan lemak abdominal, dan gangguan metabolisme.
Kondisi metabolik tersebut dapat memperburuk faktor risiko kardiovaskular, terutama apabila disertai hipertensi atau diabetes melitus.
Stres kronis dapat memengaruhi aktivitas sistem kekebalan tubuh dan respons inflamasi.
Peradangan kronis tingkat rendah (low-grade chronic inflammation) merupakan salah satu proses biologis yang terlibat dalam perkembangan aterosklerosis (atherosclerosis).
Aterosklerosis adalah penumpukan plak yang mengandung lemak, kolesterol, dan komponen inflamasi pada dinding arteri.
Apabila plak menyebabkan penyempitan atau memicu pembentukan bekuan darah, aliran darah menuju otak dapat terganggu.
Namun, hubungan antara stres, peradangan, dan stroke bersifat kompleks. Tidak semua individu yang mengalami stres akan mengalami aterosklerosis atau stroke.
Stres berlebihan sering berkaitan dengan gangguan tidur, seperti insomnia (insomnia) atau kesulitan mempertahankan tidur.
Kurang tidur yang berlangsung lama dapat memengaruhi tekanan darah, metabolisme glukosa, dan pengaturan nafsu makan.
Gangguan tidur tertentu, terutama apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea), juga berhubungan dengan peningkatan risiko stroke.
Oleh karena itu, memperbaiki kualitas tidur merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Stres dapat memengaruhi perilaku seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sebagian individu merespons tekanan dengan meningkatkan konsumsi rokok, mengonsumsi makanan tinggi gula atau garam, mengurangi aktivitas fisik, atau mengabaikan pemeriksaan kesehatan.
Perubahan perilaku tersebut dapat memperbesar risiko hipertensi, obesitas (obesity), dislipidemia (dyslipidemia), dan diabetes melitus.
Dengan demikian, pengaruh stres terhadap risiko stroke tidak hanya melalui mekanisme biologis, tetapi juga melalui kebiasaan hidup yang menyertainya.
Penelitian Reddin et al. (2022) dalam JAMA Network Open menganalisis 26.812 peserta dari 32 negara melalui studi INTERSTROKE.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara stres psikososial dan kejadian stroke akut. Individu yang melaporkan stres berkepanjangan di rumah memiliki odds ratio (OR) sebesar 1,95, sedangkan stres di tempat kerja memiliki OR sebesar 2,70 dibandingkan kelompok tanpa stres yang dilaporkan.
Hasil tersebut menunjukkan hubungan statistik yang bermakna. Namun, karena penelitian menggunakan desain kasus-kontrol, temuan ini tidak membuktikan bahwa stres secara langsung menyebabkan stroke. PubMed+1
Pengelolaan stres perlu dilakukan bersama pengendalian faktor risiko kesehatan lainnya.
Pengelolaan stres bermanfaat bagi kesehatan secara umum, tetapi tidak boleh menggantikan pengobatan hipertensi, diabetes, gangguan jantung, atau penyakit lain yang meningkatkan risiko stroke.
Masyarakat perlu mengenali gejala stroke yang muncul secara mendadak, seperti wajah mencong, kelemahan salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, kehilangan keseimbangan, atau sakit kepala sangat hebat yang tidak biasa.
Apabila gejala tersebut muncul, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menganggap gejala tersebut hanya akibat stres, kelelahan, atau kurang tidur.
Stres berlebihan, terutama yang berlangsung dalam jangka panjang, berkaitan dengan peningkatan risiko stroke melalui mekanisme fisiologis dan perilaku. Aktivasi sistem saraf simpatis, gangguan regulasi hormon stres, perubahan tekanan darah, serta kebiasaan hidup tidak sehat dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit serebrovaskular.
Bukti penelitian menunjukkan adanya hubungan antara stres psikososial dan kejadian stroke, tetapi hubungan tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami stres akan terkena stroke.
Pengelolaan stres, penerapan pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, dan pengendalian penyakit penyerta merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan otak serta pembuluh darah.
1. Reddin, C., Murphy, R., Hankey, G. J., et al. (2022). Association of psychosocial stress with risk of acute stroke. JAMA Network Open, 5(12), e2244836. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2022.44836
2. Feigin, V. L., Stark, B. A., Johnson, C. O., et al. (2021). Global, regional, and national burden of stroke and its risk factors, 1990–2019: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet Neurology, 20(10), 795–820. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(21)00252-0
3. O’Donnell, M. J., Chin, S. L., Rangarajan, S., et al. (2016). Global and regional effects of potentially modifiable risk factors associated with acute stroke in 32 countries (INTERSTROKE): A case-control study. The Lancet, 388(10046), 761–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)30506-2
4. Steptoe, A., & Kivimäki, M. (2012). Stress and cardiovascular disease. Nature Reviews Cardiology, 9, 360–370. https://doi.org/10.1038/nrcardio.2012.45
5. Kivimäki, M., & Steptoe, A. (2018). Effects of stress on the development and progression of cardiovascular disease. Nature Reviews Cardiology, 15, 215–229. https://doi.org/10.1038/nrcardio.2017.189