
Stroke merupakan gangguan neurologis akut yang terjadi akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. Meskipun sering dikaitkan dengan kelompok lanjut usia, stroke juga dapat menyerang orang dewasa muda, termasuk mereka yang masih berada dalam usia produktif. Secara medis, stroke pada usia muda sering disebut young-onset stroke. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, kebiasaan merokok, obesitas, gangguan jantung, kelainan pembekuan darah, serta faktor genetik tertentu. Stroke pada usia muda dapat menimbulkan dampak besar terhadap kemampuan bekerja, aktivitas sosial, dan kualitas hidup. Artikel ini membahas penyebab stroke pada usia muda, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, serta langkah pencegahan berdasarkan pendekatan kesehatan modern.
Kata kunci: stroke usia muda, young-onset stroke, stroke iskemik, stroke hemoragik, faktor risiko stroke, pencegahan stroke.
Stroke merupakan salah satu penyakit serebrovaskular (cerebrovascular disease) yang terjadi ketika aliran darah menuju jaringan otak mengalami gangguan. Kondisi tersebut menyebabkan sel-sel saraf kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga fungsi otak dapat terganggu secara mendadak.
Selama ini, stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Padahal, stroke juga dapat terjadi pada kelompok usia muda.
Dalam penelitian epidemiologi, stroke pada usia muda atau young-onset stroke sering didefinisikan sebagai stroke yang terjadi pada orang dewasa berusia sekitar 18–50 tahun, meskipun batas usia dapat berbeda antarpenelitian.
Menurut Ekker et al. (2018), stroke iskemik pada orang dewasa muda memiliki karakteristik penyebab dan faktor risiko yang beragam, termasuk penyakit pembuluh darah, kelainan jantung, serta kondisi medis tertentu yang lebih jarang ditemukan pada kelompok usia lanjut.
Stroke pada usia produktif perlu mendapatkan perhatian karena dapat menyebabkan gangguan aktivitas, kehilangan kemampuan bekerja, ketergantungan pada keluarga, dan penurunan kualitas hidup.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa usia muda bukan jaminan seseorang terbebas dari risiko stroke.
Stroke dapat terjadi pada usia muda karena gangguan pembuluh darah dan sistem peredaran darah tidak hanya dialami oleh orang lanjut usia.
Secara umum, stroke dibedakan menjadi dua jenis utama.
Stroke iskemik (ischemic stroke) terjadi ketika pembuluh darah menuju otak mengalami penyumbatan oleh bekuan darah atau material lain.
Sementara itu, stroke hemoragik (hemorrhagic stroke) terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan di dalam atau sekitar otak.
Kedua jenis stroke tersebut dapat terjadi pada orang dewasa muda.
Faktor risiko yang berperan dapat berupa penyakit metabolik, kebiasaan hidup, kelainan pembuluh darah, gangguan jantung, maupun kondisi genetik tertentu.
Hipertensi (hypertension) merupakan salah satu faktor risiko stroke yang paling penting, termasuk pada usia muda.
Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah atau endotel (endothelium).
Kerusakan tersebut dapat mempercepat pembentukan plak aterosklerosis (atherosclerosis) dan meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah.
Hipertensi juga dapat melemahkan pembuluh darah kecil di otak sehingga meningkatkan risiko perdarahan.
Masalahnya, hipertensi sering tidak menimbulkan keluhan yang jelas.
Seseorang mungkin merasa sehat, tetapi memiliki tekanan darah yang tidak terkontrol selama bertahun-tahun.
Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara berkala penting dilakukan sejak usia dewasa muda.
Merokok merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular.
Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat menyebabkan disfungsi endotel (endothelial dysfunction), meningkatkan proses peradangan, serta mempercepat aterosklerosis.
Merokok juga dapat meningkatkan kecenderungan pembentukan bekuan darah.
Pada usia muda, kebiasaan merokok yang berlangsung bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pembuluh darah.
Menghentikan kebiasaan merokok merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung.
Diabetes melitus (diabetes mellitus) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah secara kronis.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko aterosklerosis.
Diabetes tipe 2 (type 2 diabetes mellitus) kini juga ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, terutama apabila disertai obesitas, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat.
Penderita diabetes perlu menjaga kadar glukosa darah melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta pengobatan sesuai anjuran dokter.
Dislipidemia (dyslipidemia) merupakan gangguan kadar lemak dalam darah, termasuk peningkatan kolesterol LDL (low-density lipoprotein).
Kolesterol LDL berperan dalam pembentukan plak pada dinding pembuluh darah.
Sementara itu, obesitas (obesity) sering berkaitan dengan hipertensi, resistensi insulin (insulin resistance), dan gangguan metabolisme lemak.
Kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, termasuk stroke.
Menjaga berat badan dan menerapkan pola makan seimbang merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko tersebut.
Gaya hidup sedentari (sedentary lifestyle) merupakan pola hidup yang ditandai dengan banyak duduk dan rendahnya aktivitas fisik.
Kebiasaan ini dapat berkontribusi terhadap obesitas, hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolisme.
Orang dewasa muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja di depan komputer atau menggunakan perangkat elektronik perlu memperhatikan kecukupan aktivitas fisik.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan.
Aktivitas fisik teratur dapat membantu menjaga tekanan darah, berat badan, dan kesehatan jantung.
Beberapa kelainan jantung dapat meningkatkan risiko stroke pada usia muda.
Salah satunya adalah patent foramen ovale (PFO), yaitu adanya celah yang menetap antara serambi kanan dan kiri jantung.
PFO cukup sering ditemukan pada populasi umum dan sebagian besar tidak menyebabkan masalah kesehatan.
Namun, pada keadaan tertentu, PFO dapat memungkinkan bekuan darah dari sistem vena berpindah ke sirkulasi arteri dan menuju otak. Mekanisme ini disebut emboli paradoks (paradoxical embolism).
Selain itu, gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium (atrial fibrillation) dapat meningkatkan risiko stroke embolik.
Pemeriksaan jantung diperlukan apabila dokter mencurigai adanya sumber emboli.
Sebagian kasus stroke usia muda berhubungan dengan kondisi yang meningkatkan kecenderungan terbentuknya bekuan darah.
Kondisi tersebut dikenal sebagai keadaan hiperkoagulabilitas (hypercoagulable state).
Salah satu contohnya adalah sindrom antifosfolipid (antiphospholipid syndrome), yaitu penyakit autoimun yang dapat meningkatkan risiko trombosis.
Namun, tidak semua kelainan pembekuan darah memiliki hubungan yang sama kuat dengan stroke arteri.
Pemeriksaan khusus perlu dilakukan berdasarkan riwayat kesehatan, temuan klinis, dan pertimbangan dokter.
Stroke pada usia muda juga dapat disebabkan oleh diseksi arteri servikal (cervical artery dissection).
Diseksi terjadi ketika lapisan dinding pembuluh darah mengalami robekan sehingga darah masuk ke dalam lapisan pembuluh.
Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah atau menyebabkan terbentuknya bekuan darah yang bergerak menuju otak.
Diseksi dapat terjadi secara spontan atau berkaitan dengan cedera pada leher.
Selain itu, kelainan pembuluh darah seperti malformasi arteriovena (arteriovenous malformation atau AVM) dan aneurisma intrakranial (intracranial aneurysm) dapat meningkatkan risiko perdarahan otak pada kondisi tertentu.
Stres berkepanjangan dan kurang tidur dapat memengaruhi kesehatan melalui berbagai mekanisme, termasuk perubahan tekanan darah, aktivitas sistem saraf otonom, dan kebiasaan hidup.
Namun, stres atau begadang tidak dapat dianggap sebagai penyebab langsung setiap kejadian stroke.
Hubungannya sering melibatkan faktor lain, seperti hipertensi, merokok, kurang aktivitas fisik, dan gangguan metabolik.
Gangguan tidur tertentu, terutama apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea), juga berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur dan mengelola stres merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan, tetapi tidak menggantikan pengendalian faktor risiko medis.
Gejala stroke pada usia muda pada dasarnya sama dengan gejala stroke pada usia lanjut.
Tanda-tandanya dapat berupa wajah mencong, kelemahan atau mati rasa mendadak pada salah satu sisi tubuh, bicara pelo, gangguan penglihatan, serta kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba.
Pada sebagian kasus perdarahan otak, dapat muncul sakit kepala sangat hebat yang terjadi mendadak.
Pengenalan gejala stroke dapat menggunakan metode BE-FAST:
Apabila gejala tersebut muncul, segera menuju instalasi gawat darurat rumah sakit.
Jangan menunggu gejala hilang atau mencoba pijat dan terapi alternatif terlebih dahulu, karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko kerusakan otak.
Pencegahan stroke perlu dimulai sejak usia produktif melalui pengendalian faktor risiko.
Pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, dan profil lipid dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan sebelum menimbulkan komplikasi.
Selain itu, masyarakat dianjurkan berhenti merokok, membatasi konsumsi garam, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Menjaga kualitas tidur dan menghindari penggunaan narkotika, terutama stimulan seperti kokain dan amfetamin, juga penting karena zat tersebut dapat meningkatkan risiko kejadian serebrovaskular.
Bagi individu dengan penyakit jantung, gangguan pembekuan darah, atau riwayat keluarga tertentu, pemeriksaan dan pengobatan perlu disesuaikan dengan rekomendasi dokter.
Stroke tidak hanya menyerang orang lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada kelompok usia muda yang masih produktif.
Faktor risiko utama meliputi hipertensi, merokok, diabetes melitus, dislipidemia, obesitas, dan kurang aktivitas fisik.
Selain itu, beberapa kasus berhubungan dengan kelainan jantung, gangguan pembekuan darah, diseksi arteri, serta kelainan pembuluh darah otak.
1. Ekker, M. S., Boot, E. M., Singhal, A. B., Tan, K. S., Debette, S., Tuladhar, A. M., & de Leeuw, F. E. (2018). Epidemiology, aetiology, and management of ischaemic stroke in young adults. The Lancet Neurology, 17(9), 790–801. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(18)30233-3
2. Smajlović, D. (2015). Strokes in young adults: Epidemiology and prevention. Vascular Health and Risk Management, 11, 157–164. https://doi.org/10.2147/VHRM.S53203
3. O’Donnell, M. J., Chin, S. L., Rangarajan, S., et al. (2016). Global and regional effects of potentially modifiable risk factors associated with acute stroke in 32 countries (INTERSTROKE): A case-control study. The Lancet, 388(10046), 761–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)30506-2
4. Feigin, V. L., Brainin, M., Norrving, B., et al. (2022). World Stroke Organization (WSO): Global stroke fact sheet 2022. International Journal of Stroke, 17(1), 18–29. https://doi.org/10.1177/17474930211065917
5. Bushnell, C., Kernan, W. N., Sharrief, A. Z., et al. (2024). 2024 guideline for the primary prevention of stroke: A guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000475
6. World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128