Pondok Assyifa Bang Bari 082254825060
Rumah Quran Ratu Assyifa 082154442690
Rumah Herbal Indonesia 082213485345
Selasa, 3 Nov 2026 Kat : Edukasi Kesehatan

7 Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Meningkatkan Risiko Stroke

Sudah Dibaca Sebanyak : 3 Kali

Abstrak

Stroke merupakan salah satu penyakit serebrovaskular yang menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di berbagai negara. Penyakit ini terjadi akibat gangguan aliran darah menuju jaringan otak, baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Selain dipengaruhi faktor genetik dan penyakit penyerta, kejadian stroke berkaitan erat dengan kebiasaan hidup sehari-hari. Merokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi makanan tinggi garam, pola tidur yang buruk, konsumsi alkohol berlebihan, serta kurangnya pengendalian penyakit kronis merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Artikel ini bertujuan menjelaskan tujuh kebiasaan sehari-hari yang berhubungan dengan peningkatan risiko stroke berdasarkan pengetahuan medis dan penelitian ilmiah. Pemahaman mengenai faktor risiko tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan stroke.

Kata kunci: Stroke, faktor risiko stroke, gaya hidup tidak sehat, hipertensi, penyakit serebrovaskular, pencegahan stroke.

Pendahuluan

Stroke merupakan gangguan neurologis yang terjadi ketika suplai darah menuju jaringan otak mengalami hambatan atau perdarahan. Kondisi ini menyebabkan sel-sel saraf otak tidak memperoleh oksigen dan nutrisi yang cukup sehingga dapat mengalami kerusakan. Dalam istilah medis, stroke termasuk penyakit serebrovaskular (cerebrovascular disease), yaitu kelompok gangguan kesehatan yang menyerang pembuluh darah otak. Secara umum, stroke dibedakan menjadi stroke iskemik (ischemic stroke) akibat penyumbatan pembuluh darah dan stroke hemoragik (hemorrhagic stroke) akibat pecahnya pembuluh darah.

Menurut World Health Organization (WHO), stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas secara global. Kejadian stroke dipengaruhi oleh faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti usia dan riwayat keluarga, serta faktor risiko yang dapat dimodifikasi melalui perubahan perilaku dan pengobatan. Penelitian INTERSTROKE menunjukkan bahwa sejumlah faktor risiko yang dapat dimodifikasi berhubungan dengan sebagian besar kejadian stroke di berbagai wilayah dunia (O’Donnell et al., 2016). Oleh karena itu, mengenali kebiasaan sehari-hari yang dapat meningkatkan risiko stroke merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan mencegah komplikasi neurologis.

1. Kebiasaan Merokok (Cigarette Smoking)

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan stroke. Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya, termasuk nikotin (nicotine) dan karbon monoksida (carbon monoxide), yang dapat memengaruhi fungsi pembuluh darah dan sistem peredaran darah. Paparan zat berbahaya dari rokok dapat menyebabkan gangguan fungsi endotel (endothelial dysfunction), yaitu kerusakan atau gangguan lapisan dalam pembuluh darah.

Kondisi tersebut dapat mempercepat pembentukan plak lemak pada dinding arteri yang dikenal sebagai aterosklerosis (atherosclerosis). Selain itu, merokok meningkatkan kecenderungan pembentukan bekuan darah (thrombosis) yang dapat menghambat aliran darah menuju otak. Menghentikan kebiasaan merokok merupakan salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung.

2. Kurang Melakukan Aktivitas Fisik (Physical Inactivity)

Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko yang berkaitan dengan peningkatan tekanan darah, obesitas, diabetes melitus, dan gangguan metabolisme lemak. Kebiasaan duduk terlalu lama tanpa disertai aktivitas fisik yang cukup disebut perilaku sedentari (sedentary behavior). Apabila berlangsung secara terus-menerus, perilaku tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan kesehatan kardiometabolik.

Aktivitas fisik secara teratur membantu meningkatkan kebugaran jantung dan pembuluh darah, memperbaiki sensitivitas insulin (insulin sensitivity), serta membantu mengendalikan tekanan darah. Orang dewasa umumnya dianjurkan melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit setiap minggu sesuai kemampuan dan kondisi kesehatannya. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, berkebun, atau melakukan senam dapat menjadi pilihan untuk mengurangi kebiasaan kurang bergerak.

3. Sering Mengonsumsi Makanan Tinggi Garam dan Lemak Jenuh

Pola makan yang tidak sehat merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko stroke. Konsumsi garam atau natrium (sodium) secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, terutama pada individu yang sensitif terhadap garam. Tekanan darah tinggi atau hipertensi (hypertension) merupakan salah satu faktor risiko terpenting terjadinya stroke. Selain itu, konsumsi lemak jenuh (saturated fat) secara berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein cholesterol) pada sebagian individu. Peningkatan kolesterol LDL dapat mempercepat pembentukan plak aterosklerosis pada pembuluh darah.

Kebiasaan mengonsumsi makanan olahan, makanan cepat saji, makanan tinggi garam, serta kurang makan buah dan sayuran dapat memperburuk kesehatan pembuluh darah. Pola makan sehat yang kaya sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan sumber protein sehat dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

4. Kebiasaan Begadang dan Kurang Tidur (Sleep Deprivation)

Tidur merupakan proses biologis penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan fungsi saraf, metabolisme, dan sistem kardiovaskular. Kebiasaan kurang tidur secara terus-menerus dapat berkaitan dengan peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme glukosa, dan perubahan respons hormon stres. Dalam istilah medis, kekurangan tidur disebut sleep deprivation, sedangkan gangguan pola tidur dan bangun dapat berkaitan dengan gangguan ritme sirkadian (circadian rhythm disruption).

Durasi tidur yang terlalu pendek maupun kualitas tidur yang buruk dalam sejumlah penelitian observasional dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa satu malam begadang secara langsung menyebabkan stroke. Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam, meskipun kebutuhan setiap individu dapat berbeda. Menjaga jadwal tidur yang teratur, membatasi kafein menjelang malam, dan mengurangi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.

5. Konsumsi Alkohol Berlebihan (Excessive Alcohol Consumption)

Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko stroke melalui berbagai mekanisme fisiologis. Alkohol dapat memengaruhi tekanan darah, irama jantung, fungsi hati, dan keseimbangan sistem pembekuan darah. Konsumsi alkohol dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko hipertensi serta gangguan irama jantung tertentu, termasuk fibrilasi atrium (atrial fibrillation).

Fibrilasi atrium merupakan kondisi ketika irama jantung menjadi tidak teratur sehingga dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang berpotensi menyumbat pembuluh darah otak. Konsumsi alkohol berlebihan juga berhubungan dengan peningkatan risiko stroke hemoragik. Untuk pencegahan stroke, individu yang tidak mengonsumsi alkohol tidak dianjurkan mulai meminumnya dengan alasan kesehatan. Menghindari alkohol merupakan pilihan yang baik untuk mengurangi risiko kesehatan.

6. Mengabaikan Pemeriksaan Tekanan Darah dan Gula Darah

Sebagian masyarakat tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin karena merasa tubuhnya masih sehat. Padahal, beberapa faktor risiko stroke dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala yang jelas. Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena dapat berlangsung tanpa keluhan yang nyata, tetapi tetap menyebabkan kerusakan pembuluh darah. Selain hipertensi, diabetes melitus (diabetes mellitus) dapat meningkatkan risiko stroke melalui gangguan metabolisme glukosa dan kerusakan pembuluh darah. Kadar gula darah yang tinggi secara kronis dapat berkontribusi terhadap disfungsi endotel, peradangan, dan aterosklerosis.

Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, serta profil lipid secara berkala dapat membantu mendeteksi faktor risiko sejak dini. Bagi pasien yang telah didiagnosis hipertensi atau diabetes, kepatuhan terhadap pengobatan dan kontrol rutin menjadi bagian penting dalam pencegahan stroke.

7. Tidak Mengelola Stres dengan Baik (Chronic Psychological Stress)

Stres merupakan respons tubuh terhadap tekanan fisik maupun psikologis. Apabila berlangsung secara berkepanjangan, stres kronis (chronic psychological stress) dapat memengaruhi kesehatan melalui aktivasi sistem saraf simpatis (sympathetic nervous system) dan sistem hormonal yang mengatur respons stres. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan peningkatan tekanan darah, gangguan tidur, dan perubahan perilaku kesehatan. Stres juga dapat mendorong kebiasaan tidak sehat seperti merokok, makan berlebihan, kurang bergerak, atau mengabaikan pengobatan.

Sejumlah penelitian observasional menemukan hubungan antara faktor psikososial dan risiko stroke, meskipun hubungan sebab-akibatnya bersifat kompleks. Pengelolaan stres dapat dilakukan melalui aktivitas fisik, relaksasi, dukungan keluarga, konseling psikologis, dan kegiatan spiritual sesuai keyakinan individu. Bagi masyarakat Muslim, kegiatan berdoa, berzikir, serta membaca atau mendengarkan Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ketenangan psikologis. Namun, kegiatan tersebut tidak menggantikan pengobatan terhadap faktor risiko medis.

Cara Mengurangi Risiko Stroke Sejak Dini

Pencegahan stroke perlu dilakukan secara konsisten melalui perubahan perilaku dan pengendalian faktor risiko kesehatan. Beberapa langkah yang dapat diterapkan meliputi menghentikan kebiasaan merokok, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga pola makan, mencukupi kebutuhan tidur, menghindari alkohol, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, serta mengelola stres. Selain itu, individu dengan hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau gangguan irama jantung perlu menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter. Masyarakat juga perlu mengenali gejala stroke melalui metode FAST, yaitu Face (wajah mencong), Arms (kelemahan lengan), Speech (gangguan bicara), dan Time (segera mencari pertolongan medis). Apabila gejala stroke muncul secara mendadak, segera menuju instalasi gawat darurat. Penanganan tidak boleh ditunda untuk mencoba pengobatan rumahan atau terapi alternatif.

Kesimpulan

Stroke merupakan penyakit serius yang dapat dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan sehari-hari. Tujuh kebiasaan yang berpotensi meningkatkan risiko stroke meliputi merokok, kurang aktivitas fisik, mengonsumsi makanan tinggi garam dan lemak jenuh, kurang tidur, konsumsi alkohol berlebihan, mengabaikan pemeriksaan kesehatan, serta tidak mengelola stres dengan baik. Sebagian besar faktor tersebut dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup dan pengendalian penyakit penyerta. Pencegahan stroke tidak hanya dilakukan ketika seseorang mulai mengalami keluhan kesehatan, tetapi perlu menjadi bagian dari kebiasaan hidup sejak usia muda.

Daftar Pustaka Ilmiah

1. O’Donnell, M. J., Chin, S. L., Rangarajan, S., et al. (2016). Global and regional effects of potentially modifiable risk factors associated with acute stroke in 32 countries (INTERSTROKE): A case-control study. The Lancet, 388(10046), 761–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)30506-2

2. Feigin, V. L., Brainin, M., Norrving, B., et al. (2022). World Stroke Organization (WSO): Global stroke fact sheet 2022. International Journal of Stroke, 17(1), 18–29. https://doi.org/10.1177/17474930211065917

3. Bushnell, C., Kernan, W. N., Sharrief, A. Z., et al. (2024). 2024 guideline for the primary prevention of stroke: A guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 55, e344–e424. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000475

4. World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128

5. World Health Organization. (2012). Guideline: Sodium intake for adults and children. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241504836

6. American Heart Association. (n.d.). Life’s Essential 8. https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-lifestyle/lifes-essential-8

Informasi Publik Lainnya