Pondok Assyifa Bang Bari 082254825060
Rumah Quran Ratu Assyifa 082154442690
Rumah Herbal Indonesia 082213485345
Senin, 22 Des 2025 Kat : Edukasi Kesehatan

Tanda-Tanda Preeklamsia yang Harus Diwaspadai pada Ibu Hamil

Sudah Dibaca Sebanyak : 74 Kali
Tanda-Tanda Preeklamsia yang Harus Diwaspadai pada Ibu Hamil

Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan sering kali disertai proteinuria atau kerusakan organ lainnya. Kondisi ini biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan dapat berkembang menjadi preeklamsia berat jika tidak ditangani dengan cepat. Di Indonesia, preeklamsia menjadi penyebab utama kematian ibu hamil, sehingga penting bagi setiap calon ibu untuk mengenali tanda-tanda preeklamsia sejak dini. Artikel ini akan membahas secara tuntas gejala preeklamsia, tanda preeklamsia berat, faktor risiko, komplikasi, serta cara pencegahan dan penanganan.

Apa Itu Preeklamsia?

Pengertian Preeklamsia

Preeklamsia adalah gangguan hipertensi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu, sering disertai proteinuria (protein dalam urin ≥0,3 g/24 jam) atau tanda kerusakan organ seperti ginjal, hati, atau paru-paru. Kondisi ini memengaruhi aliran darah ke plasenta, sehingga dapat membahayakan ibu dan janin.

Perbedaan Preeklamsia Ringan dan Berat

Preeklamsia ringan biasanya hanya menunjukkan hipertensi dan proteinuria tanpa gejala berat. Sementara preeklamsia berat ditandai dengan tekanan darah ≥160/110 mmHg, gejala neurologis seperti sakit kepala parah, atau gangguan organ signifikan. Jika tidak ditangani, preeklamsia dapat berkembang menjadi eklampsia (kejang) atau sindrom HELLP (hemolisis, elevasi enzim hati, dan trombositopenia).

Prevalensi di Indonesia

Di Indonesia, preeklamsia menyumbang sekitar 24-28% kematian ibu hamil. Kasus ini lebih tinggi pada ibu dengan faktor risiko seperti usia ekstrem atau riwayat hipertensi.

Tanda-Tanda Preeklamsia yang Harus Diwaspadai

Banyak ibu hamil tidak menyadari gejala preeklamsia karena mirip dengan keluhan kehamilan normal. Namun, pengenalan dini sangat krusial untuk mencegah komplikasi.

Tanda Utama Klinis

Hipertensi pada Kehamilan

Tanda paling awal adalah tekanan darah tinggi. Ini sering terdeteksi pada pemeriksaan antenatal rutin. Tekanan darah normal pada ibu hamil <130/90 mmHg. Jika mencapai 140/90 mmHg atau lebih pada dua pengukuran terpisah, waspada preeklamsia.

Proteinuria

Adanya protein dalam urin menandakan kerusakan ginjal. Tes urin sederhana pada kunjungan antenatal dapat mendeteksi ini.

Gejala yang Sering Dirasakan

Sakit Kepala Parah

Sakit kepala yang tidak hilang meski istirahat atau minum obat biasa menjadi gejala preeklamsia umum. Ini disebabkan oleh vasospasme pembuluh darah otak.

Gangguan Penglihatan

Pandangan kabur, melihat bintik-bintik, sensitif terhadap cahaya, atau hilang penglihatan sementara adalah tanda serius yang memerlukan perhatian segera.

Pembengkakan (Edema)

Pembengkakan pada kaki normal pada kehamilan, tapi jika muncul tiba-tiba di wajah, tangan, atau seluruh tubuh, serta disertai kenaikan berat badan >1-2 kg per minggu, ini tanda preeklamsia.

Nyeri Perut Bagian Atas

Nyeri di ulu hati atau perut kanan atas sering disalahartikan sebagai maag atau tendangan janin, padahal ini menandakan gangguan hati.

Mual, Muntah, dan Sesak Napas

Mual muntah pada trimester kedua atau ketiga bukan morning sickness biasa, melainkan gejala preeklamsia. Sesak napas bisa akibat cairan di paru-paru.

Penurunan Produksi Urin

Oliguria (urin sedikit) menandakan gangguan ginjal.

Tanda Preeklamsia Berat yang Mendesak

Preeklamsia berat ditandai dengan:

  • Tekanan darah sangat tinggi (≥160/110 mmHg).
  • Sakit kepala intens disertai muntah.
  • Gangguan penglihatan berat.
  • Nyeri epigastrium parah.
  • Edema paru (sesak napas berat).
  • Trombosit rendah atau enzim hati meningkat (sindrom HELLP).

Jika mengalami ini, segera ke rumah sakit karena risiko eklampsia tinggi.

Faktor Risiko Preeklamsia

Beberapa faktor meningkatkan kemungkinan preeklamsia:

Faktor Maternal

  • Usia <20 atau >35-40 tahun.
  • Kehamilan pertama (primigravida).
  • Riwayat preeklamsia sebelumnya.
  • Riwayat hipertensi kronis, diabetes, penyakit ginjal, atau autoimun.
  • Obesitas (BMI >30 sebelum hamil).

Faktor Kehamilan

  • Kehamilan kembar atau multipel.
  • Jarak kehamilan >10 tahun atau terlalu dekat.
  • Riwayat keluarga hipertensi atau preeklamsia.

Faktor Lain di Indonesia

Anemia, malnutrisi, dan akses layanan kesehatan terbatas juga berkontribusi.

Komplikasi Preeklamsia bagi Ibu dan Janin

Pada Ibu

  • Eklampsia (kejang).
  • Sindrom HELLP.
  • Stroke, gagal ginjal, edema paru.
  • Abrupsio plasenta.

Pada Janin

  • Restriksi pertumbuhan janin (IUGR).
  • Kelahiran prematur.
  • Kekurangan oksigen, bahkan kematian janin.

Preeklamsia postpartum juga bisa muncul hingga 6 minggu setelah melahirkan.

Diagnosis Preeklamsia

Diagnosis melalui:

  • Pengukuran tekanan darah rutin.
  • Tes urin untuk proteinuria.
  • Tes darah (fungsi hati, ginjal, trombosit).
  • USG untuk monitor janin.

Pemeriksaan antenatal minimal 4 kali sangat penting.

Penanganan dan Pengobatan Preeklamsia

Penanganan Ringan

  • Istirahat total.
  • Monitor tekanan darah di rumah.
  • Obat antihipertensi seperti metildopa.

Penanganan Berat

  • Rawat inap.
  • Magnesium sulfat untuk cegah kejang.
  • Persalinan dini (induksi atau sesar) jika usia kehamilan >34 minggu atau kondisi kritis.

Satu-satunya “obat” definitif adalah kelahiran bayi.

Pencegahan Preeklamsia

Meski tidak 100% dicegah, risiko bisa diturunkan dengan:

  • Konsumsi aspirin dosis rendah (81 mg) sejak 12 minggu untuk berisiko tinggi (atas rekomendasi dokter).
  • Suplemen kalsium jika defisiensi.
  • Pola makan sehat: rendah garam, tinggi buah-sayuran.
  • Olahraga ringan.
  • Kontrol berat badan.
  • Pemeriksaan rutin sejak awal kehamilan.

Di Indonesia, program ANC (Antenatal Care) dari pemerintah membantu deteksi dini.

Kesimpulan: Waspadai dan Bertindak Cepat

Preeklamsia adalah kondisi yang bisa dicegah komplikasinya dengan pengenalan tanda-tanda awal seperti hipertensi, proteinuria, sakit kepala parah, gangguan penglihatan, dan pembengkakan abnormal. Jangan abaikan gejala preeklamsia, terutama pada preeklamsia berat yang bisa mengancam nyawa. Konsultasikan selalu dengan dokter atau bidan pada setiap kunjungan antenatal. Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, ibu dan bayi bisa selamat dan sehat.

(Artikel ini disusun berdasarkan sumber medis terpercaya seperti Mayo Clinic, WHO, dan pedoman kesehatan Indonesia. Konsultasikan dokter untuk saran pribadi.)

Informasi Publik Lainnya

Mohon Maaf Tidak Diperkenankan Klik Kanan