
Stroke merupakan gangguan neurologis akut yang terjadi akibat terganggunya aliran darah menuju jaringan otak. Berdasarkan mekanisme terjadinya, stroke dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu stroke iskemik (ischemic stroke) dan stroke hemoragik (hemorrhagic stroke). Stroke iskemik disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah, sedangkan stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan di dalam atau sekitar otak. Kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan dalam mekanisme penyakit, faktor risiko, pemeriksaan diagnostik, serta penanganan medis. Artikel ini bertujuan menjelaskan perbedaan stroke iskemik dan hemoragik berdasarkan literatur ilmiah agar masyarakat dapat memahami pentingnya pengenalan gejala dan penanganan segera. Pengetahuan yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan stroke dan mengurangi risiko kecacatan jangka panjang.
Kata kunci: stroke iskemik, stroke hemoragik, penyumbatan pembuluh darah, perdarahan otak, penyakit serebrovaskular.
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di dunia. Penyakit ini dapat terjadi secara mendadak dan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, seperti kelemahan anggota gerak, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, serta penurunan kesadaran.
Dalam istilah medis, stroke termasuk penyakit serebrovaskular (cerebrovascular disease), yaitu gangguan yang berkaitan dengan pembuluh darah otak.
Otak membutuhkan suplai oksigen dan glukosa secara terus-menerus untuk mempertahankan fungsi sel saraf. Ketika aliran darah mengalami gangguan, sel-sel otak dapat mengalami kerusakan dalam waktu singkat.
Menurut Feigin et al. (2022), stroke menjadi salah satu masalah kesehatan global yang membutuhkan perhatian serius melalui pencegahan, deteksi dini, dan penanganan yang cepat.
Secara umum, stroke dibagi menjadi stroke iskemik dan stroke hemoragik. Meskipun keduanya dapat menimbulkan gejala yang serupa, mekanisme terjadinya berbeda sehingga memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda pula.
Stroke iskemik (ischemic stroke) merupakan gangguan neurologis akibat berkurangnya atau terhentinya aliran darah menuju bagian tertentu dari otak karena penyumbatan pembuluh darah.
Penyumbatan dapat disebabkan oleh trombus (thrombus), yaitu bekuan darah yang terbentuk pada pembuluh darah, atau embolus (embolus), yaitu material yang terbawa aliran darah dari lokasi lain dan menyumbat pembuluh darah otak.
Ketika pembuluh darah tersumbat, jaringan otak mengalami iskemia serebral (cerebral ischemia), yaitu kondisi kekurangan suplai darah dan oksigen.
Apabila gangguan berlangsung cukup lama, sel-sel otak dapat mengalami kematian jaringan yang disebut infark serebral (cerebral infarction).
Stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling sering ditemukan, mencakup sekitar 80–85% dari seluruh kasus stroke, meskipun proporsinya dapat berbeda menurut populasi.
Beberapa penyebab utama stroke iskemik meliputi:
Aterosklerosis (atherosclerosis) merupakan proses penumpukan plak yang mengandung kolesterol, lemak, dan komponen inflamasi pada dinding pembuluh darah arteri.
Plak dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau memicu pembentukan bekuan darah yang menghambat aliran darah menuju otak.
Emboli kardiogenik (cardioembolism) terjadi ketika bekuan darah terbentuk di jantung dan kemudian terbawa menuju pembuluh darah otak.
Salah satu faktor risikonya adalah fibrilasi atrium (atrial fibrillation), yaitu gangguan irama jantung yang meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah.
Penyakit pembuluh darah kecil (cerebral small vessel disease) dapat menyebabkan penyumbatan arteri kecil di bagian dalam otak.
Kondisi ini sering berkaitan dengan hipertensi kronis dan diabetes melitus (diabetes mellitus).
Stroke hemoragik (hemorrhagic stroke) merupakan gangguan neurologis akut akibat pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi perdarahan di dalam jaringan otak atau ruang di sekitarnya.
Darah yang keluar dari pembuluh dapat merusak jaringan otak secara langsung dan meningkatkan tekanan di dalam rongga kepala.
Peningkatan tekanan intrakranial (increased intracranial pressure) dapat memperburuk kondisi neurologis karena mengganggu fungsi jaringan otak di sekitarnya.
Stroke hemoragik terdiri atas dua bentuk utama, yaitu perdarahan intraserebral (intracerebral hemorrhage) dan perdarahan subaraknoid (subarachnoid hemorrhage).
Perdarahan intraserebral terjadi di dalam jaringan otak, sedangkan perdarahan subaraknoid terjadi pada ruang antara otak dan selaput araknoid yang mengelilinginya.
Hipertensi (hypertension) merupakan salah satu faktor risiko utama perdarahan intraserebral.
Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat menyebabkan perubahan struktur dan melemahkan pembuluh darah kecil di otak sehingga lebih rentan mengalami perdarahan.
Aneurisma serebral (cerebral aneurysm) merupakan pelebaran abnormal pada bagian dinding pembuluh darah otak.
Apabila aneurisma pecah, dapat terjadi perdarahan subaraknoid yang merupakan kondisi gawat darurat medis.
Malformasi arteriovenosa (arteriovenous malformation atau AVM) merupakan kelainan hubungan antara pembuluh darah arteri dan vena.
Struktur pembuluh darah yang abnormal dapat meningkatkan risiko perdarahan pada sebagian penderita.
Gangguan koagulasi (coagulopathy), penggunaan obat antikoagulan tertentu, atau kondisi medis yang memengaruhi pembekuan darah dapat meningkatkan risiko perdarahan otak.
Penggunaan obat tersebut harus tetap mengikuti petunjuk dokter karena pada kondisi tertentu manfaat pencegahan pembekuan darah lebih besar daripada risiko perdarahan.
Berikut perbandingan kedua jenis stroke berdasarkan penyebab, mekanisme, dan penanganannya.
| Aspek | Stroke Iskemik | Stroke Hemoragik |
|---|---|---|
| Penyebab utama | Penyumbatan pembuluh darah | Pecah atau bocornya pembuluh darah |
| Mekanisme | Berkurangnya suplai darah dan oksigen | Perdarahan yang merusak jaringan otak |
| Proporsi kasus | Sekitar 80–85% | Sekitar 15–20% |
| Faktor risiko | Hipertensi, diabetes, aterosklerosis, fibrilasi atrium | Hipertensi, aneurisma, AVM, gangguan pembekuan |
| Pemeriksaan utama | CT scan atau MRI otak | CT scan atau MRI otak |
| Penanganan akut | Pemulihan aliran darah pada pasien yang memenuhi syarat | Pengendalian perdarahan dan komplikasinya |
| Komplikasi | Infark otak, kelemahan tubuh, gangguan bicara | Perluasan perdarahan, peningkatan tekanan intrakranial, gangguan kesadaran |
American Stroke Association menjelaskan bahwa stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling sering terjadi, sedangkan stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah yang melemah. American Stroke Association+1
Stroke iskemik dan hemoragik dapat menunjukkan gejala yang hampir sama. Oleh karena itu, jenis stroke tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keluhan pasien.
Gejala yang perlu diwaspadai meliputi wajah mencong secara mendadak, kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, serta kehilangan keseimbangan.
Sakit kepala yang sangat hebat dan muncul secara tiba-tiba dapat ditemukan pada stroke hemoragik, terutama perdarahan subaraknoid. Namun, tidak semua pasien stroke hemoragik mengalami sakit kepala, dan sakit kepala juga dapat muncul pada kondisi lain.
Pemeriksaan pencitraan otak sangat penting untuk membedakan kedua jenis stroke sebelum menentukan pengobatan. Stroke+1
Tujuan utama penanganan stroke iskemik akut adalah mengembalikan aliran darah menuju jaringan otak yang masih dapat diselamatkan.
Pada pasien tertentu, dokter dapat memberikan terapi trombolitik (intravenous thrombolysis) menggunakan obat seperti alteplase atau tenecteplase untuk melarutkan bekuan darah.
Pasien yang memenuhi kriteria juga dapat menjalani trombektomi mekanik (mechanical thrombectomy), yaitu tindakan mengeluarkan bekuan darah dari pembuluh darah otak menggunakan kateter.
Pemilihan tindakan bergantung pada waktu munculnya gejala, hasil pencitraan, lokasi penyumbatan, dan kondisi pasien. American Stroke Association
Pada stroke hemoragik, tujuan pengobatan adalah mengendalikan perdarahan, mencegah perluasannya, dan menangani komplikasi neurologis.
Penanganan dapat meliputi pengendalian tekanan darah, pembalikan efek obat antikoagulan jika diperlukan, serta tindakan bedah atau intervensi pembuluh darah pada kondisi tertentu.
Apabila perdarahan disebabkan oleh aneurisma yang pecah, tindakan seperti endovascular coiling atau surgical clipping dapat dipertimbangkan untuk mengamankan aneurisma. PubMed+1
Obat pengencer darah tidak boleh diberikan sendiri kepada seseorang yang dicurigai mengalami stroke, karena dapat memperburuk kondisi apabila ternyata terjadi perdarahan otak.
Meskipun mekanismenya berbeda, kedua jenis stroke memiliki sejumlah faktor risiko yang sama, terutama hipertensi.
Pencegahan dapat dilakukan melalui pemeriksaan tekanan darah secara berkala, pengendalian diabetes dan kolesterol, penghentian kebiasaan merokok, aktivitas fisik teratur, serta penerapan pola makan seimbang.
Pasien dengan gangguan irama jantung atau riwayat stroke perlu mengikuti pengobatan dan pemeriksaan sesuai arahan dokter. Jenis obat pencegahan stroke harus disesuaikan dengan penyebab penyakit dan risiko perdarahan masing-masing pasien.
Stroke iskemik dan stroke hemoragik merupakan dua jenis gangguan serebrovaskular yang memiliki mekanisme berbeda. Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah, sedangkan stroke hemoragik disebabkan oleh perdarahan di dalam atau sekitar otak.
Keduanya dapat menimbulkan gangguan neurologis berat, seperti kelemahan anggota gerak, kesulitan berbicara, penurunan kesadaran, dan kecacatan jangka panjang.
Perbedaan mekanisme tersebut menyebabkan pendekatan pengobatan tidak sama. Oleh karena itu, pemeriksaan medis dan pencitraan otak diperlukan untuk menentukan jenis stroke serta penanganan yang sesuai.
Pengenalan gejala secara dini, pengendalian faktor risiko, dan pertolongan medis segera merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kematian dan disabilitas akibat stroke.
1. Feigin, V. L., et al. (2022). World Stroke Organization (WSO): Global stroke fact sheet 2022. International Journal of Stroke, 17(1), 18–29. https://doi.org/10.1177/17474930211065917
2. Greenberg, S. M., Ziai, W. C., Cordonnier, C., et al. (2022). 2022 guideline for the management of patients with spontaneous intracerebral hemorrhage: A guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 53(7), e282–e361. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000407
3. Hoh, B. L., Ko, N. U., Amin-Hanjani, S., et al. (2023). 2023 guideline for the management of patients with aneurysmal subarachnoid hemorrhage: A guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 54(7), e314–e370. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000436
4. American Stroke Association. (n.d.). Types of stroke and treatment. American Stroke Association.
5. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About stroke. CDC — About Stroke.