Pondok Assyifa Bang Bari 082254825060
Rumah Quran Ratu Assyifa 082154442690
Rumah Herbal Indonesia 082213485345
Rabu, 4 Nov 2026 Kat : Edukasi Kesehatan

Mengapa Pasien Stroke Sering Merasa Lelah? Kenali Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Sudah Dibaca Sebanyak : 3 Kali

Abstrak

Kelelahan merupakan salah satu keluhan yang sering dialami pasien setelah mengalami stroke. Kondisi ini dikenal sebagai kelelahan pascastroke atau post-stroke fatigue (PSF), yaitu perasaan lelah secara fisik maupun mental yang dapat muncul meskipun pasien tidak melakukan aktivitas berat. Kelelahan pascastroke berbeda dengan rasa lelah biasa karena tidak selalu membaik sepenuhnya setelah beristirahat. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kerusakan jaringan otak, perubahan sistem saraf, gangguan tidur, depresi, kelemahan otot, penyakit penyerta, serta efek samping obat tertentu. Artikel ini membahas penyebab kelelahan pada pasien stroke, dampaknya terhadap pemulihan, serta strategi penanganan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.

Kata kunci: stroke, kelelahan pascastroke, post-stroke fatigue, rehabilitasi stroke, gangguan tidur, kualitas hidup.

Pendahuluan

Stroke merupakan gangguan neurologis akut yang terjadi akibat terhambatnya aliran darah menuju otak atau pecahnya pembuluh darah otak. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gangguan fungsi tubuh, seperti kelemahan anggota gerak, kesulitan berbicara, gangguan keseimbangan, serta perubahan kemampuan berpikir.Selain gangguan tersebut, sebagian pasien mengalami kelelahan yang berlangsung dalam waktu lama setelah serangan stroke.

Kelelahan ini sering tidak terlihat secara langsung oleh keluarga maupun tenaga kesehatan karena pasien mungkin tampak sehat ketika sedang beristirahat.Dalam istilah medis, kondisi tersebut disebut post-stroke fatigue (PSF).

Menurut Cumming et al. (2016), kelelahan pascastroke merupakan masalah yang kompleks dan dapat memengaruhi kemampuan pasien mengikuti rehabilitasi, melakukan aktivitas sehari-hari, serta mempertahankan kualitas hidup.Oleh karena itu, kelelahan setelah stroke perlu dipahami sebagai keluhan yang membutuhkan evaluasi, bukan sekadar kurangnya semangat atau motivasi pasien.

Apa Itu Kelelahan Pascastroke?

Kelelahan pascastroke merupakan kondisi ketika pasien mengalami rasa lelah fisik, mental, atau keduanya yang tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan.

Pasien dapat merasa sangat lelah setelah melakukan kegiatan sederhana, seperti mandi, berjalan beberapa langkah, berbicara, atau berkonsentrasi.

Kondisi ini berbeda dengan kelelahan normal yang umumnya muncul setelah aktivitas berat dan membaik dengan istirahat yang cukup.

Pada kelelahan pascastroke, rasa lelah dapat menetap atau berulang meskipun pasien telah tidur dan beristirahat.

Kelelahan juga dapat muncul pada pasien dengan gangguan motorik ringan, sehingga tingkat kelelahan tidak selalu sebanding dengan tingkat kelumpuhan.

Secara klinis, keluhan ini perlu dibedakan dari kelemahan otot (muscle weakness), kantuk berlebihan (hypersomnolence), dan depresi (depression), meskipun beberapa kondisi tersebut dapat terjadi bersamaan.

Mengapa Pasien Stroke Sering Merasa Lelah?

1. Perubahan Fungsi Otak Setelah Stroke

Stroke dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak yang berperan dalam pengendalian gerakan, perhatian, emosi, dan aktivitas mental.

Perubahan jaringan saraf dapat mengganggu efisiensi pemrosesan informasi dan pengaturan aktivitas tubuh.

Akibatnya, pasien mungkin membutuhkan usaha yang lebih besar untuk menyelesaikan kegiatan yang sebelumnya terasa mudah.

Sebagai contoh, pasien yang mengalami gangguan koordinasi atau konsentrasi dapat merasa cepat lelah ketika berjalan atau mengikuti percakapan.

Namun, mekanisme biologis kelelahan pascastroke belum sepenuhnya dipahami dan kemungkinan melibatkan berbagai proses yang saling berkaitan.

2. Kelemahan Otot dan Penurunan Kebugaran

Setelah stroke, sebagian pasien mengalami hemiparesis (hemiparesis), yaitu kelemahan anggota gerak pada salah satu sisi tubuh.

Kelemahan tersebut menyebabkan pasien membutuhkan tenaga lebih besar untuk melakukan gerakan.

Selain itu, keterbatasan aktivitas selama masa pemulihan dapat menurunkan kebugaran fisik atau menyebabkan physical deconditioning.

Penurunan kebugaran membuat aktivitas sederhana terasa lebih berat.

Akibatnya, pasien dapat mengalami kelelahan meskipun hanya melakukan kegiatan sehari-hari.

3. Gangguan Tidur

Gangguan tidur merupakan salah satu masalah yang dapat menyertai stroke.

Sebagian pasien mengalami insomnia (insomnia), yaitu kesulitan memulai atau mempertahankan tidur.

Pasien lain dapat mengalami apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea), yaitu gangguan pernapasan berulang saat tidur yang dapat menurunkan kualitas tidur.

Kurangnya tidur yang berkualitas dapat menyebabkan rasa lelah, gangguan konsentrasi, dan kantuk pada siang hari.

Karena itu, pola tidur perlu dievaluasi apabila pasien mengalami kelelahan yang menetap.

4. Depresi dan Kecemasan Pascastroke

Gangguan psikologis dapat berkontribusi terhadap kelelahan setelah stroke.

Depresi pascastroke (post-stroke depression) dapat ditandai dengan suasana hati sedih berkepanjangan, kehilangan minat, gangguan tidur, dan penurunan energi.

Sementara itu, kecemasan pascastroke (post-stroke anxiety) dapat menyebabkan pasien merasa khawatir, tegang, dan sulit beristirahat.

Kondisi psikologis tersebut dapat memperberat kelelahan fisik maupun mental.

Namun, penting dipahami bahwa kelelahan pascastroke dapat terjadi meskipun pasien tidak mengalami depresi.

5. Gangguan Konsentrasi dan Aktivitas Mental

Stroke dapat memengaruhi fungsi kognitif (cognitive function), seperti perhatian, daya ingat, dan kemampuan memproses informasi.

Pasien yang mengalami gangguan kognitif mungkin membutuhkan usaha mental lebih besar untuk memahami percakapan, membaca, atau menyelesaikan tugas sederhana.

Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan mental atau mental fatigue.

Sebagai contoh, pasien mungkin merasa sangat lelah setelah menerima banyak tamu atau mengikuti percakapan yang panjang.

Oleh karena itu, aktivitas mental juga perlu diatur sesuai kemampuan pasien.

6. Penyakit Penyerta dan Efek Samping Obat

Pasien stroke dapat memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas (comorbidity) seperti diabetes melitus, penyakit jantung, anemia, dan gangguan fungsi tiroid.

Beberapa kondisi tersebut dapat menyebabkan atau memperberat kelelahan.

Selain itu, obat tertentu dapat menimbulkan efek samping berupa kantuk, pusing, atau penurunan energi.

Dokter perlu meninjau riwayat penyakit dan obat yang digunakan apabila kelelahan mengganggu aktivitas pasien.

Pasien tidak dianjurkan menghentikan obat stroke atau obat penyakit penyerta tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Apakah Kelelahan Setelah Stroke Merupakan Kondisi Normal?

Kelelahan merupakan keluhan yang cukup sering ditemukan setelah stroke, tetapi bukan berarti kondisi tersebut harus diabaikan.

Sebagian pasien mengalami kelelahan selama beberapa minggu, sedangkan pasien lainnya dapat mengalaminya selama berbulan-bulan atau lebih lama.

Tingkat keparahan dan durasinya berbeda pada setiap individu.

Kelelahan yang menetap perlu dievaluasi untuk mengetahui kemungkinan faktor yang dapat ditangani, seperti gangguan tidur, depresi, anemia, atau efek samping obat.

Pemeriksaan medis penting terutama apabila kelelahan muncul secara mendadak, semakin berat, atau disertai gejala baru.

Dampak Kelelahan terhadap Pemulihan Stroke

Kelelahan dapat memengaruhi kemampuan pasien menjalani rehabilitasi.

Pasien yang mudah lelah mungkin kesulitan mengikuti latihan fisioterapi dalam durasi panjang.

Selain itu, kelelahan dapat mengurangi kemampuan berkonsentrasi, berinteraksi sosial, dan melakukan aktivitas sehari-hari atau activities of daily living (ADL).

Kondisi ini juga dapat menyebabkan pasien membatasi kegiatan karena khawatir mengalami kelelahan berlebihan.

Jika berlangsung lama, keterbatasan aktivitas dapat memengaruhi kebugaran dan kemandirian.

Oleh karena itu, program rehabilitasi perlu mempertimbangkan kapasitas energi pasien.

Cara Mengatasi Kelelahan pada Pasien Stroke

1. Mengatur Aktivitas dan Waktu Istirahat

Pengelolaan energi atau energy conservation merupakan salah satu strategi yang dapat membantu pasien menghadapi kelelahan.

Pasien dianjurkan membagi aktivitas menjadi beberapa bagian kecil dan menyediakan waktu istirahat di antaranya.

Kegiatan yang membutuhkan tenaga lebih besar dapat dijadwalkan ketika pasien merasa paling bugar.

Tujuannya adalah mengurangi kelelahan berlebihan tanpa menghentikan seluruh aktivitas.

2. Melakukan Aktivitas Fisik Secara Bertahap

Latihan fisik yang disesuaikan dengan kemampuan pasien dapat membantu meningkatkan kebugaran dan fungsi tubuh.

Program dapat mencakup latihan berjalan, latihan kekuatan otot, latihan keseimbangan, dan aktivitas aerobik ringan.

Jenis latihan sebaiknya ditentukan bersama tenaga rehabilitasi berdasarkan kondisi medis pasien.

Aktivitas perlu ditingkatkan secara bertahap dan tidak dipaksakan ketika pasien mengalami kelelahan berat.

3. Menjaga Kualitas Tidur

Pasien dianjurkan memiliki jadwal tidur dan bangun yang relatif teratur.

Lingkungan tidur sebaiknya tenang, nyaman, dan memiliki pencahayaan yang sesuai.

Konsumsi kafein menjelang waktu tidur perlu dibatasi apabila mengganggu tidur.

Jika pasien mendengkur keras, mengalami henti napas saat tidur, atau mengantuk berat pada siang hari, pemeriksaan dokter diperlukan untuk menilai kemungkinan apnea tidur.

4. Memenuhi Kebutuhan Nutrisi dan Cairan

Asupan makanan bergizi seimbang penting untuk mendukung kesehatan dan proses rehabilitasi.

Pasien dianjurkan memperoleh sumber protein, sayuran, buah, serta energi yang cukup sesuai kebutuhan.

Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan berdasarkan kondisi kesehatan.

Pada pasien dengan gangguan menelan atau disfagia (dysphagia), makanan dan minuman harus mengikuti hasil penilaian kemampuan menelan agar tidak meningkatkan risiko aspirasi.

5. Mengatasi Gangguan Psikologis

Dukungan emosional dari keluarga dapat membantu pasien menghadapi perubahan kondisi setelah stroke.

Pasien yang mengalami gejala depresi atau kecemasan perlu mendapatkan evaluasi tenaga kesehatan.

Pendekatan psikologis, konseling, dan pengobatan tertentu dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan.

Bagi pasien Muslim, doa, zikir, dan mendengarkan murottal Al-Qur’an dapat menjadi bentuk dukungan spiritual untuk membantu kenyamanan emosional.

Namun, pendekatan spiritual tidak menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis.

6. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Apabila kelelahan menetap, dokter dapat mengevaluasi tekanan darah, kualitas tidur, kondisi psikologis, penyakit penyerta, dan penggunaan obat.

Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan apabila terdapat indikasi untuk menilai anemia, gangguan metabolik, atau kondisi lain.

Penanganan faktor penyebab yang dapat diperbaiki berpotensi membantu mengurangi keluhan kelelahan.

Peran Keluarga dalam Mendampingi Pasien Stroke yang Mudah Lelah

Keluarga perlu memahami bahwa kelelahan pascastroke merupakan keluhan nyata dan tidak selalu terlihat dari kondisi fisik pasien.

Pasien sebaiknya tidak dipaksa melakukan aktivitas berlebihan, tetapi juga tidak dianjurkan beristirahat sepanjang hari tanpa alasan medis.

Keluarga dapat membantu menyusun jadwal kegiatan, menyediakan waktu istirahat, serta mendampingi latihan sesuai arahan tenaga rehabilitasi.

Komunikasi yang baik penting agar pasien dapat menyampaikan kapan dirinya merasa lelah atau membutuhkan bantuan.

Apabila kelelahan mendadak disertai wajah mencong, kelemahan baru pada satu sisi tubuh, gangguan bicara, nyeri dada, atau sesak napas berat, segera cari pertolongan medis darurat.

Kesimpulan

Kelelahan pada pasien stroke atau post-stroke fatigue merupakan kondisi yang dapat dipengaruhi oleh perubahan fungsi otak, kelemahan otot, penurunan kebugaran, gangguan tidur, masalah psikologis, penyakit penyerta, serta efek samping obat.

Kelelahan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengurangi kemampuan pasien mengikuti rehabilitasi.

Penanganannya membutuhkan pendekatan menyeluruh melalui pengaturan aktivitas, istirahat yang cukup, latihan fisik bertahap, pemenuhan nutrisi, serta evaluasi medis.

Daftar Pustaka Ilmiah

1. Cumming, T. B., Packer, M., Kramer, S. F., & English, C. (2016). The prevalence of fatigue after stroke: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Stroke, 11(9), 968–977. https://doi.org/10.1177/1747493016669861

2. Choi-Kwon, S., & Kim, J. S. (2011). Poststroke fatigue: An emerging, critical issue in stroke medicine. International Journal of Stroke, 6(4), 328–336. https://doi.org/10.1111/j.1747-4949.2011.00624.x

3. Hinkle, J. L., Becker, K. J., Kim, J. S., et al. (2017). Poststroke fatigue: Emerging evidence and approaches to management. Stroke, 48(7), e159–e170. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000132

4. Winstein, C. J., Stein, J., Arena, R., et al. (2016). Guidelines for adult stroke rehabilitation and recovery. Stroke, 47(6), e98–e169. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000098

5. Towfighi, A., Ovbiagele, B., El Husseini, N., et al. (2017). Poststroke depression: A scientific statement for healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 48(2), e30–e43. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000113

6. National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Stroke rehabilitation in adults (NG236). https://www.nice.org.uk/guidance/ng236

Informasi Publik Lainnya