
Stroke merupakan gangguan neurologis yang dapat menyebabkan kelemahan, kelumpuhan, serta perubahan fungsi otot. Salah satu komplikasi yang sering dialami pasien setelah stroke adalah kekakuan otot atau spastisitas (spasticity). Kondisi ini terjadi akibat gangguan sistem saraf pusat yang mengendalikan gerakan dan tonus otot. Spastisitas dapat menyebabkan otot terasa tegang, sulit digerakkan, nyeri, serta keterbatasan aktivitas sehari-hari. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kekakuan otot dapat meningkatkan risiko kontraktur (contracture), yaitu pemendekan jaringan yang menyebabkan keterbatasan gerak sendi secara menetap. Artikel ini membahas mekanisme terjadinya kekakuan otot pascastroke, faktor yang memengaruhinya, dampak terhadap pemulihan, serta pendekatan rehabilitasi dan penanganan medis.
Kata kunci: stroke, spastisitas, kekakuan otot, kontraktur, rehabilitasi stroke, fisioterapi.
Stroke merupakan penyakit serebrovaskular (cerebrovascular disease) yang terjadi akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. Kerusakan jaringan saraf akibat stroke dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerakan tubuh.
Salah satu gangguan yang sering ditemukan adalah kelemahan anggota gerak pada salah satu sisi tubuh atau hemiparesis (hemiparesis).
Pada sebagian pasien, kelemahan tersebut kemudian disertai peningkatan tonus otot sehingga tangan atau kaki terasa kaku dan sulit digerakkan.
Dalam terminologi medis, kondisi ini dikenal sebagai spastisitas pascastroke (post-stroke spasticity).
Menurut Wissel et al. (2013), spastisitas merupakan salah satu komplikasi motorik setelah stroke yang dapat mengganggu fungsi anggota gerak, kenyamanan, dan aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi proses rehabilitasi dan meningkatkan kebutuhan bantuan dari keluarga.
Spastisitas merupakan gangguan pengendalian otot akibat kerusakan sistem saraf pusat (central nervous system).
Secara klinis, spastisitas ditandai dengan peningkatan tahanan otot terhadap gerakan pasif yang bergantung pada kecepatan gerakan.
Artinya, ketika anggota tubuh digerakkan lebih cepat oleh pemeriksa, otot dapat memberikan tahanan yang lebih besar.
Kondisi ini berbeda dengan kekakuan akibat perubahan struktur sendi atau pemendekan jaringan.
Pada pasien stroke, spastisitas sering ditemukan pada otot lengan, pergelangan tangan, jari, paha, betis, dan pergelangan kaki.
Sebagian pasien mengalami posisi siku yang cenderung menekuk, tangan menggenggam, atau pergelangan kaki mengarah ke bawah.
Namun, tidak semua pasien stroke mengalami spastisitas. Sebagian pasien justru memiliki tonus otot rendah atau hipotonia (hypotonia), terutama pada fase awal.
Gerakan tubuh dikendalikan melalui komunikasi antara otak, sumsum tulang belakang, saraf perifer, dan otot.
Salah satu sistem yang berperan adalah jalur motorik atas atau upper motor neuron pathway.
Stroke dapat merusak jaringan otak yang terlibat dalam pengendalian gerakan dan pengaturan refleks.
Kerusakan tersebut menyebabkan perubahan keseimbangan antara sinyal saraf yang meningkatkan dan menghambat aktivitas otot.
Akibatnya, refleks peregangan dapat menjadi lebih aktif sehingga otot memberikan tahanan berlebihan ketika digerakkan.
Kondisi ini merupakan salah satu mekanisme utama terjadinya spastisitas.
Dalam keadaan normal, sistem saraf pusat membantu mengendalikan aktivitas refleks pada sumsum tulang belakang.
Proses ini melibatkan mekanisme penghambatan saraf atau neural inhibition.
Setelah stroke, sebagian jalur penghambatan tersebut dapat terganggu.
Akibatnya, respons refleks otot terhadap peregangan menjadi berlebihan atau hiperrefleksia (hyperreflexia).
Pada beberapa pasien, kondisi tersebut dapat disertai klonus (clonus), yaitu kontraksi otot berulang yang muncul akibat peregangan tertentu.
Gangguan refleks ini dapat menyebabkan otot terasa tegang dan sulit dikendalikan.
Kekakuan setelah stroke tidak selalu disebabkan oleh spastisitas.
Kurangnya gerakan dalam waktu lama dapat menyebabkan perubahan sifat mekanis otot, tendon, dan jaringan ikat.
Otot yang jarang digerakkan dapat mengalami pemendekan dan kehilangan kelenturan.
Apabila berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menyebabkan kontraktur (contracture).
Kontraktur merupakan keterbatasan gerak sendi akibat perubahan jaringan yang tidak sepenuhnya dapat diatasi hanya dengan mengurangi aktivitas refleks otot.
Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk membedakan spastisitas, kontraktur, dan penyebab kekakuan lainnya.
Setelah stroke, sebagian pasien mengalami kelemahan otot atau paresis (paresis).
Kelemahan tersebut dapat menyebabkan pasien sulit menggerakkan anggota tubuh secara aktif.
Kurangnya aktivitas dapat memperburuk keterbatasan gerak, menurunkan kekuatan otot, dan meningkatkan risiko perubahan jaringan lunak.
Meskipun imobilitas bukan satu-satunya penyebab spastisitas, kondisi ini dapat memperberat gangguan fungsi anggota gerak.
Oleh karena itu, latihan gerak yang sesuai merupakan bagian penting dari rehabilitasi.
Spastisitas dapat muncul dalam beberapa hari, minggu, atau bulan setelah stroke.
Pada fase awal, sebagian pasien mengalami kelemahan otot dengan tonus rendah.
Seiring waktu, aktivitas refleks dan pengendalian otot dapat mengalami perubahan.
Menurut Wissel et al. (2010), tanda spastisitas dapat ditemukan sejak fase awal pascastroke pada sebagian pasien.
Namun, waktu kemunculan dan tingkat keparahannya berbeda pada setiap individu.
Faktor yang dapat memengaruhi meliputi lokasi kerusakan otak, derajat kelemahan, gangguan sensorik, serta kondisi fungsi motorik.
Pasien yang mengalami spastisitas dapat menunjukkan beberapa gejala berikut:
Tingkat keparahan dapat berbeda pada setiap pasien.
Tenaga kesehatan dapat menggunakan Modified Ashworth Scale (MAS) untuk menilai tahanan terhadap gerakan pasif.
Namun, hasil MAS perlu ditafsirkan bersama pemeriksaan lain karena tahanan otot tidak selalu disebabkan oleh spastisitas saja.
Kekakuan otot dapat memengaruhi kemampuan pasien melakukan aktivitas sehari-hari atau activities of daily living (ADL).
Spastisitas pada tangan dapat menyulitkan pasien membuka jari, membersihkan telapak tangan, atau mengenakan pakaian.
Pada kaki, spastisitas dapat mengganggu pola berjalan dan keseimbangan.
Kondisi tersebut juga dapat menimbulkan nyeri, gangguan tidur, dan kesulitan menjaga kebersihan tubuh.
Pada beberapa pasien, peningkatan tonus otot tertentu dapat membantu mempertahankan posisi berdiri. Oleh karena itu, tujuan penanganan bukan selalu menghilangkan seluruh tonus otot, melainkan memperbaiki fungsi, kenyamanan, dan kemampuan perawatan.
Fisioterapi (physiotherapy) merupakan salah satu bagian penting dalam rehabilitasi pasien stroke.
Program latihan dapat mencakup latihan gerak aktif, latihan gerak dengan bantuan, latihan kekuatan, dan latihan fungsional.
Latihan rentang gerak sendi atau range of motion (ROM) dapat membantu mempertahankan mobilitas sendi.
Namun, latihan ROM tidak selalu menghilangkan spastisitas secara langsung.
Jenis dan intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan serta kondisi medis pasien.
Peregangan atau stretching dapat digunakan sebagai bagian dari program untuk mempertahankan kelenturan jaringan dan membantu pengaturan posisi anggota tubuh.
Peregangan sebaiknya dilakukan perlahan dan tidak dipaksakan.
Gerakan yang terlalu kuat dapat menyebabkan nyeri atau cedera jaringan.
Pada pasien dengan kontraktur atau nyeri berat, program peregangan perlu direncanakan oleh tenaga rehabilitasi.
Latihan fungsional bertujuan membantu pasien menggunakan anggota tubuh dalam kegiatan sehari-hari.
Contohnya adalah latihan meraih benda, membuka tangan, berpindah posisi, berdiri, dan berjalan.
Terapi okupasi (occupational therapy) juga dapat membantu pasien meningkatkan kemandirian dalam berpakaian, makan, dan melakukan aktivitas pribadi.
Latihan perlu dilakukan secara bertahap berdasarkan kemampuan pasien.
Pada kondisi tertentu, tenaga rehabilitasi dapat merekomendasikan ortosis (orthosis) atau alat bantu penyangga.
Contohnya adalah ankle-foot orthosis (AFO) untuk membantu posisi kaki pada pasien dengan gangguan berjalan.
Penggunaan bidai atau splint pada tangan juga dapat dipertimbangkan untuk tujuan tertentu.
Namun, alat bantu tidak boleh digunakan secara sembarangan karena dapat menyebabkan tekanan berlebihan, nyeri, atau gangguan kulit apabila tidak sesuai.
Pada pasien dengan spastisitas yang mengganggu fungsi atau menyebabkan nyeri, dokter dapat mempertimbangkan obat tertentu.
Salah satu pilihan untuk spastisitas fokal adalah injeksi toksin botulinum tipe A (botulinum toxin type A).
Obat ini bekerja dengan mengurangi aktivitas otot yang terlalu aktif pada area tertentu.
Untuk spastisitas yang lebih luas, dokter dapat mempertimbangkan obat oral seperti baklofen (baclofen) atau tizanidin (tizanidine).
Penggunaan obat harus berdasarkan pemeriksaan karena dapat menimbulkan efek samping, termasuk kelemahan atau kantuk.
Penanganan kekakuan otot sebaiknya melibatkan kerja sama antara dokter rehabilitasi medik, perawat, fisioterapis, terapis okupasi, pasien, dan keluarga.
Evaluasi berkala diperlukan untuk menilai perkembangan fungsi, nyeri, dan risiko kontraktur.
Dukungan psikologis dan spiritual dapat diberikan sesuai kebutuhan serta keyakinan pasien.
Bagi pasien Muslim, doa, zikir, atau mendengarkan murottal Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari dukungan kenyamanan emosional, tetapi tidak menggantikan terapi medis dan rehabilitasi.
Keluarga memiliki peran penting dalam mendampingi pasien menjalani program rehabilitasi.
Anggota keluarga dapat membantu mengingatkan jadwal latihan, mengatur posisi tubuh, serta mengamati perubahan kondisi anggota gerak.
Latihan di rumah sebaiknya mengikuti instruksi tenaga rehabilitasi agar tidak menyebabkan cedera.
Keluarga juga perlu memperhatikan kebersihan telapak tangan, lipatan siku, dan area tubuh yang sulit dibersihkan akibat kekakuan.
Apabila kekakuan mendadak memburuk, disertai nyeri hebat, bengkak, demam, atau perubahan neurologis baru, pasien perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Kekakuan otot pada pasien stroke dapat disebabkan oleh spastisitas akibat gangguan pengendalian saraf, perubahan refleks otot, serta perubahan jaringan lunak karena keterbatasan gerak.
Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan berjalan, menggunakan tangan, menjaga kebersihan tubuh, dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Penanganan meliputi fisioterapi, latihan fungsional, pengaturan posisi, penggunaan alat bantu, serta terapi obat pada kondisi tertentu.
1. Wissel, J., Manack, A., & Brainin, M. (2013). Toward an epidemiology of poststroke spasticity. Neurology, 80(3 Suppl 2), S13–S19. https://doi.org/10.1212/WNL.0b013e3182762448
2. Wissel, J., Schelosky, L. D., Scott, J., Christe, W., Faiss, J. H., & Mueller, J. (2010). Early development of spasticity following stroke: A prospective, observational trial. Journal of Neurology, 257, 1067–1072. https://doi.org/10.1007/s00415-010-5463-1
3. Li, S. (2017). Spasticity, motor recovery, and neural plasticity after stroke. Frontiers in Neurology, 8, 120. https://doi.org/10.3389/fneur.2017.00120
4. Winstein, C. J., Stein, J., Arena, R., et al. (2016). Guidelines for adult stroke rehabilitation and recovery. Stroke, 47(6), e98–e169. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000098
5. Francisco, G. E., & McGuire, J. R. (2012). Poststroke spasticity management. Stroke, 43(11), 3132–3136. https://doi.org/10.1161/STROKEAHA.111.639831
6. National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Stroke rehabilitation in adults (NG236). https://www.nice.org.uk/guidance/ng236