
Stroke merupakan gangguan neurologis yang tidak hanya memengaruhi kemampuan bergerak, berbicara, dan berpikir, tetapi juga dapat menyebabkan perubahan pola tidur. Sebagian pasien stroke mengalami kesulitan memulai tidur, sering terbangun pada malam hari, mengantuk berlebihan pada siang hari, atau mengalami gangguan pernapasan saat tidur. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kerusakan jaringan otak, perubahan ritme sirkadian, gangguan psikologis, nyeri, serta penyakit penyerta. Dalam terminologi medis, gangguan tidur pascastroke meliputi insomnia (insomnia disorder), hipersomnia (hypersomnia), dan apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea). Artikel ini bertujuan menjelaskan penyebab gangguan tidur pada pasien stroke, dampaknya terhadap rehabilitasi, serta strategi penanganan untuk meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan pasien.
Kata kunci: stroke, gangguan tidur pascastroke, insomnia, hipersomnia, sleep apnea, kualitas tidur, rehabilitasi stroke.
Stroke merupakan penyakit serebrovaskular (cerebrovascular disease) yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak atau perdarahan pada jaringan otak. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan fungsi sistem saraf pusat (central nervous system).
Dampak stroke sering terlihat melalui kelemahan anggota gerak, gangguan keseimbangan, kesulitan berbicara, serta penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Namun, salah satu masalah yang juga perlu diperhatikan adalah gangguan tidur setelah stroke.
Tidur merupakan proses biologis penting yang berperan dalam pemulihan tubuh, pengaturan metabolisme, fungsi imun, dan konsolidasi memori.
Pasien stroke yang mengalami gangguan tidur dapat merasa lebih lelah, sulit berkonsentrasi, dan kurang optimal dalam mengikuti rehabilitasi.
Menurut Hermann dan Bassetti (2016), gangguan tidur dan gangguan pernapasan saat tidur cukup sering ditemukan pada pasien stroke serta memiliki hubungan dengan kesehatan neurologis dan kardiovaskular.
Oleh karena itu, evaluasi kualitas tidur perlu menjadi bagian dari perawatan pasien stroke secara menyeluruh.
Tidur diatur oleh jaringan saraf yang kompleks, termasuk hipotalamus (hypothalamus), talamus (thalamus), dan batang otak (brainstem).
Struktur tersebut berperan dalam mengatur siklus tidur dan bangun atau sleep-wake cycle.
Apabila stroke mengenai bagian otak yang terlibat dalam pengaturan tidur, pasien dapat mengalami perubahan durasi dan pola tidur.
Sebagian pasien menjadi sulit tidur pada malam hari, sedangkan pasien lainnya mengalami kantuk berlebihan.
Gangguan tersebut dipengaruhi oleh lokasi dan luas kerusakan jaringan otak.
Namun, tidak semua gangguan tidur setelah stroke disebabkan langsung oleh lesi otak. Faktor psikologis, lingkungan, dan penyakit penyerta juga dapat berperan.
Ritme sirkadian merupakan sistem biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh selama kurang lebih 24 jam, termasuk waktu tidur dan bangun.
Pengaturan ritme ini melibatkan nukleus suprakiasmatik (suprachiasmatic nucleus) yang berada di hipotalamus.
Setelah stroke, perubahan aktivitas fisik, paparan cahaya, rutinitas harian, dan kondisi neurologis dapat mengganggu keteraturan siklus tidur.
Pasien mungkin lebih sering tidur pada siang hari sehingga mengalami kesulitan tidur pada malam hari.
Perubahan tersebut dapat menyebabkan pola tidur yang tidak teratur dan meningkatkan rasa lelah.
Insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terbangun terlalu dini disertai gangguan fungsi pada siang hari.
Pada pasien stroke, insomnia dapat dipengaruhi oleh nyeri, kecemasan, depresi, perubahan lingkungan tidur, dan keterbatasan mobilitas.
Pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit juga dapat mengalami gangguan tidur akibat kebisingan, pencahayaan, serta tindakan medis pada malam hari.
Insomnia yang berlangsung lama dapat menurunkan kualitas hidup dan mengganggu aktivitas rehabilitasi.
Apnea tidur obstruktif atau obstructive sleep apnea (OSA) merupakan gangguan pernapasan ketika saluran napas bagian atas mengalami penyempitan atau penutupan berulang selama tidur.
Kondisi tersebut menyebabkan penurunan aliran udara dan dapat mengakibatkan penurunan kadar oksigen darah secara berulang (intermittent hypoxia).
OSA sering ditemukan pada pasien stroke dan juga merupakan faktor risiko stroke.
Gejalanya meliputi mendengkur keras, napas terhenti sementara saat tidur, terbangun dengan rasa tercekik, serta mengantuk pada siang hari.
OSA dapat memperburuk kualitas tidur dan berkaitan dengan gangguan pengendalian tekanan darah.
Pasien dengan gejala tersebut sebaiknya menjalani pemeriksaan tidur sesuai rekomendasi dokter.
Perubahan kondisi fisik setelah stroke dapat menimbulkan tekanan psikologis.Sebagian pasien mengalami depresi pascastroke (post-stroke depression) atau kecemasan pascastroke (post-stroke anxiety).Depresi dapat menyebabkan kesulitan tidur, terbangun terlalu dini, atau justru tidur berlebihan.Sementara itu, kecemasan dapat membuat pasien sulit merasa tenang ketika akan tidur.
Pasien mungkin merasa khawatir terhadap kemungkinan stroke berulang, kehilangan kemandirian, atau proses pemulihan yang berlangsung lama.Gangguan psikologis tersebut perlu dikenali karena dapat memengaruhi kualitas tidur dan partisipasi dalam rehabilitasi.
Sebagian pasien stroke mengalami nyeri neuropatik (neuropathic pain), nyeri bahu, atau spastisitas (spasticity).Spastisitas merupakan peningkatan tonus otot yang dapat menyebabkan kekakuan dan keterbatasan gerakan.Nyeri atau kekakuan dapat membuat pasien sulit menemukan posisi tidur yang nyaman.
Akibatnya, pasien sering terbangun atau mengalami tidur yang tidak nyenyak.Penanganan nyeri dan pengaturan posisi tubuh yang tepat dapat membantu meningkatkan kenyamanan selama tidur.
Pasien stroke mungkin menggunakan berbagai obat untuk mengendalikan tekanan darah, penyakit jantung, gangguan psikologis, atau keluhan lainnya.Sebagian obat dapat memengaruhi kewaspadaan atau pola tidur, bergantung pada jenis obat dan respons individu.
Selain itu, penyakit penyerta seperti diabetes melitus (diabetes mellitus), gagal jantung (heart failure), dan gangguan saluran kemih dapat menyebabkan pasien sering terbangun pada malam hari.Karena itu, gangguan tidur perlu dievaluasi secara menyeluruh, bukan hanya dianggap sebagai akibat langsung stroke.
Gangguan tidur setelah stroke dapat muncul dalam beberapa bentuk.
Insomnia ditandai dengan kesulitan tidur atau sering terbangun pada malam hari.
Hipersomnia (hypersomnia) merupakan kondisi ketika seseorang mengalami rasa kantuk berlebihan atau kebutuhan tidur yang meningkat.
Gangguan pernapasan saat tidur (sleep-disordered breathing) mencakup apnea tidur obstruktif dan, pada sebagian pasien, apnea tidur sentral (central sleep apnea).
Sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome) ditandai dengan dorongan untuk menggerakkan kaki, terutama ketika beristirahat, yang dapat mengganggu proses tidur.
Setiap jenis gangguan memiliki penyebab dan pendekatan penanganan berbeda sehingga membutuhkan pemeriksaan yang sesuai.
Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik dan psikologis pasien.Kurang tidur dapat menyebabkan kelelahan (fatigue), gangguan perhatian, perubahan suasana hati, serta penurunan kemampuan berkonsentrasi.Kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan pasien untuk mengikuti latihan rehabilitasi secara optimal.
Gangguan pernapasan saat tidur juga dapat berhubungan dengan hipertensi dan risiko kardiovaskular.Meskipun demikian, hubungan antara perbaikan kualitas tidur dan hasil pemulihan neurologis tidak selalu sederhana.Penanganan gangguan tidur tetap penting untuk meningkatkan kenyamanan, fungsi sehari-hari, dan kesehatan pasien secara keseluruhan.
Pasien dianjurkan memiliki jadwal tidur dan bangun yang relatif konsisten setiap hari.Rutinitas yang teratur dapat membantu tubuh mempertahankan ritme sirkadian.Paparan cahaya matahari pada pagi hari dan aktivitas yang sesuai kemampuan juga dapat membantu menjaga keteraturan siklus tidur.
Lingkungan tidur sebaiknya tenang, memiliki pencahayaan yang redup, dan suhu ruangan yang nyaman.Penggunaan telepon genggam atau televisi menjelang tidur sebaiknya dibatasi apabila mengganggu istirahat.Posisi tubuh perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, terutama apabila terdapat kelemahan anggota gerak atau nyeri.
Aktivitas fisik sesuai kemampuan dapat membantu menjaga kebugaran dan mendukung kualitas tidur.Latihan rentang gerak sendi (range of motion exercises), latihan keseimbangan, dan latihan berjalan dapat dilakukan berdasarkan program rehabilitasi.Namun, aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kondisi medis serta kemampuan pasien.
Teknik relaksasi seperti latihan pernapasan perlahan dan relaksasi otot progresif (progressive muscle relaxation) dapat membantu sebagian pasien mengurangi ketegangan.Bagi pasien Muslim yang menghendakinya, berdoa, berzikir, atau mendengarkan murottal Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari dukungan spiritual untuk meningkatkan kenyamanan.Pendekatan tersebut dapat digunakan sebagai pendamping perawatan, bukan pengganti pengobatan medis.
Apabila pasien mengalami mendengkur keras, henti napas saat tidur, atau mengantuk berlebihan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan seperti polisomnografi (polysomnography).Pada pasien yang didiagnosis mengalami OSA, terapi continuous positive airway pressure (CPAP) dapat dipertimbangkan.
Sementara itu, pasien dengan insomnia kronis dapat memperoleh terapi perilaku kognitif untuk insomnia (cognitive behavioral therapy for insomnia atau CBT-I), yang merupakan salah satu pendekatan utama penanganan insomnia.Penggunaan obat tidur harus berdasarkan evaluasi dokter karena beberapa obat dapat meningkatkan risiko jatuh, kebingungan, atau efek samping lainnya.
Keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kualitas tidur pasien.Pendamping dapat membantu mengatur posisi tidur, menjaga jadwal istirahat, serta memperhatikan tanda nyeri atau ketidaknyamanan.Keluarga juga perlu mengamati kebiasaan mendengkur, henti napas saat tidur, dan perubahan pola tidur yang menetap.Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menentukan penyebab gangguan tidur dan memilih penanganan yang tepat.
Gangguan tidur merupakan salah satu masalah yang dapat dialami pasien setelah stroke.Penyebabnya meliputi kerusakan jaringan otak pengatur tidur, perubahan ritme sirkadian, insomnia, apnea tidur obstruktif, depresi, kecemasan, nyeri, serta pengaruh obat dan penyakit penyerta.Gangguan tidur yang tidak ditangani dapat memengaruhi kenyamanan, kesehatan psikologis, dan kemampuan pasien mengikuti rehabilitasi.
1. Hermann, D. M., & Bassetti, C. L. (2016). Role of sleep-disordered breathing and sleep-wake disturbances for stroke and stroke recovery. Neurology, 87(13), 1407–1416. https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000003037
2. Bassetti, C. L. A., Randerath, W., Vignatelli, L., et al. (2020). EAN/ERS/ESO/ESRS statement on the impact of sleep disorders on risk and outcome of stroke. European Journal of Neurology, 27(7), 1117–1136. https://doi.org/10.1111/ene.14201
3. Winstein, C. J., Stein, J., Arena, R., et al. (2016). Guidelines for adult stroke rehabilitation and recovery. Stroke, 47(6), e98–e169. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000098
4. Towfighi, A., Ovbiagele, B., El Husseini, N., et al. (2017). Poststroke depression: A scientific statement for healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 48(2), e30–e43. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000113
5. Riemann, D., Baglioni, C., Bassetti, C., et al. (2017). European guideline for the diagnosis and treatment of insomnia. Journal of Sleep Research, 26(6), 675–700. https://doi.org/10.1111/jsr.12594
6. National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Stroke rehabilitation in adults (NG236). https://www.nice.org.uk/guidance/ng236