
Kebiasaan begadang merupakan salah satu pola hidup yang semakin sering ditemukan pada masyarakat usia produktif. Aktivitas pekerjaan, tuntutan pendidikan, penggunaan perangkat elektronik, serta gaya hidup modern menjadi faktor yang menyebabkan seseorang mengurangi waktu tidur malam. Apabila berlangsung secara terus-menerus, kurang tidur dapat memengaruhi sistem kardiovaskular, metabolisme, dan fungsi pembuluh darah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan faktor risiko terjadinya stroke atau cerebrovascular accident (CVA). Artikel ini bertujuan menjelaskan hubungan kebiasaan begadang dengan faktor risiko stroke pada kelompok usia produktif berdasarkan kajian ilmiah. Metode penulisan menggunakan pendekatan tinjauan pustaka naratif dengan menguraikan hubungan antara durasi tidur, tekanan darah, metabolisme glukosa, obesitas, dan kesehatan pembuluh darah. Hasil kajian menunjukkan bahwa durasi tidur yang tidak mencukupi dan kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi, gangguan metabolisme, serta penyakit kardiovaskular yang dapat berkontribusi terhadap kejadian stroke. Oleh karena itu, penerapan kebiasaan tidur sehat menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan faktor risiko stroke pada usia produktif.
Kata kunci: Begadang, kurang tidur, stroke, usia produktif, hipertensi, faktor risiko.
Perubahan gaya hidup masyarakat modern telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan, termasuk pola tidur. Pada kelompok usia produktif, aktivitas pekerjaan, penggunaan media sosial, tugas akademik, serta kebiasaan menonton hiburan hingga larut malam sering menyebabkan seseorang mengabaikan kebutuhan istirahat. Kebiasaan ini dikenal sebagai begadang, yaitu aktivitas tetap terjaga hingga larut malam yang dapat menyebabkan berkurangnya durasi tidur apabila tidak diimbangi waktu istirahat yang cukup.
Tidur merupakan kebutuhan fisiologis yang berperan dalam pemulihan energi, pengaturan hormon, keseimbangan metabolisme, dan pemeliharaan fungsi sistem kardiovaskular. Orang dewasa umumnya dianjurkan memperoleh tidur setidaknya tujuh jam setiap malam secara teratur. Menurut Watson et al. (2015), durasi tidur yang mencukupi memiliki peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan mengurangi risiko berbagai penyakit kronis.
Salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan adalah stroke. Penyakit ini tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada individu usia produktif. Stroke dapat mengakibatkan gangguan fungsi motorik, kemampuan berbicara, daya ingat, hingga penurunan kemandirian seseorang.
Kebiasaan begadang tidak secara langsung menyebabkan semua kejadian stroke. Namun, kurang tidur kronis yang menyertainya dapat meningkatkan sejumlah faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, dan gangguan kesehatan pembuluh darah. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai hubungan kebiasaan begadang dengan faktor risiko stroke menjadi penting sebagai dasar penerapan perilaku hidup sehat.
Stroke atau cerebrovascular accident (CVA) merupakan kondisi neurologis akut yang terjadi akibat gangguan aliran darah ke jaringan otak, baik karena penyumbatan pembuluh darah maupun perdarahan. Gangguan tersebut menyebabkan sel-sel otak mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jaringan serta penurunan fungsi neurologis. Secara medis, stroke dibedakan menjadi dua jenis utama.
Stroke iskemik (ischemic stroke) terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke otak mengalami penyumbatan, umumnya akibat pembentukan trombus atau embolus. Penyumbatan tersebut menghambat distribusi oksigen ke jaringan otak.
Stroke hemoragik (hemorrhagic stroke) terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan perdarahan dan kerusakan jaringan di sekitarnya.
Menurut Feigin et al. (2022), stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas secara global. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi, termasuk tekanan darah tinggi, gangguan metabolisme, merokok, dan aktivitas fisik yang rendah, memiliki kontribusi besar terhadap beban penyakit stroke.
Usia produktif umumnya merujuk pada kelompok usia 15–64 tahun dalam konteks kependudukan. Pada kelompok ini, seseorang cenderung memiliki tingkat aktivitas tinggi, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial. Kebiasaan begadang dapat muncul akibat tuntutan pekerjaan dengan sistem pergantian waktu kerja (shift work), penggunaan telepon pintar, konsumsi minuman berkafein, dan ketidakteraturan jadwal istirahat.
Dalam ilmu kesehatan, kurang tidur dikenal sebagai sleep deprivation, sedangkan ketidakteraturan waktu tidur dapat berkaitan dengan gangguan ritme sirkadian (circadian rhythm disruption). Ritme sirkadian merupakan sistem biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun, produksi hormon, suhu tubuh, serta berbagai proses metabolisme. Gangguan ritme tersebut dapat memengaruhi kestabilan fungsi fisiologis tubuh. Perlu dibedakan bahwa tidur larut malam tidak selalu berarti kurang tidur. Risiko kesehatan lebih berkaitan dengan durasi tidur yang tidak mencukupi, kualitas tidur yang buruk, serta jadwal tidur yang tidak teratur secara berkelanjutan.
Hipertensi atau hypertension merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya stroke.Kurang tidur dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis (sympathetic nervous system) yang berperan dalam pengaturan denyut jantung dan tekanan darah. Aktivasi berlebihan secara berkepanjangan dapat mengganggu pengaturan tekanan darah.
Menurut Javaheri dan Redline (2017), gangguan tidur berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan kardiovaskular, termasuk hipertensi. Apabila tekanan darah tinggi tidak dikendalikan, dinding pembuluh darah dapat mengalami kerusakan sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyumbatan maupun perdarahan otak.
Kebiasaan kurang tidur juga dapat memengaruhi metabolisme glukosa dalam tubuh.Tidur yang tidak mencukupi berhubungan dengan penurunan sensitivitas insulin atau insulin sensitivity, yaitu kemampuan sel tubuh merespons hormon insulin untuk mengatur kadar glukosa darah.Gangguan tersebut dapat meningkatkan risiko resistensi insulin (insulin resistance) dan diabetes melitus tipe 2 (type 2 diabetes mellitus).Diabetes merupakan faktor risiko penting terjadinya stroke karena kadar glukosa darah yang tinggi secara berkepanjangan dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan proses aterosklerosis.
Durasi tidur yang pendek dapat memengaruhi pengaturan nafsu makan dan keseimbangan energi.Gangguan tidur dapat mengubah regulasi hormon leptin dan ghrelin yang berperan dalam pengendalian rasa lapar dan kenyang.Akibatnya, individu yang sering kurang tidur dapat mengalami peningkatan keinginan mengonsumsi makanan berkalori tinggi, terutama apabila disertai aktivitas fisik yang rendah.Obesitas atau obesity dapat meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, dan gangguan profil lipid yang berkontribusi terhadap penyakit pembuluh darah.
Kurang tidur kronis juga berkaitan dengan gangguan fungsi endotel atau endothelial dysfunction.Endotel merupakan lapisan sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah dan berperan dalam menjaga kelancaran aliran darah.Gangguan fungsi endotel dapat memengaruhi kemampuan pembuluh darah untuk melebar dan menyempit secara normal.Kondisi tersebut, bersama faktor risiko lainnya, dapat berkontribusi terhadap perkembangan aterosklerosis (atherosclerosis), yaitu penumpukan plak pada dinding arteri.
Penelitian meta-analisis oleh Cappuccio et al. (2011) menunjukkan adanya hubungan antara durasi tidur dan kejadian penyakit kardiovaskular, termasuk stroke.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa durasi tidur yang terlalu pendek maupun terlalu panjang berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian stroke. Namun, hubungan tersebut bersifat epidemiologis dan tidak membuktikan bahwa begadang merupakan penyebab langsung stroke. Faktor lain, seperti kondisi kesehatan, gangguan tidur, dan perilaku hidup, juga perlu dipertimbangkan.
Kebiasaan begadang yang menyebabkan kurang tidur secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan. Dalam jangka pendek, individu dapat mengalami kelelahan, penurunan konsentrasi, gangguan suasana hati, dan penurunan produktivitas. Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat berkontribusi terhadap gangguan tekanan darah, metabolisme, dan kesehatan jantung.
Pada kelompok usia produktif, kondisi ini perlu mendapat perhatian karena faktor risiko stroke dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala yang jelas. Seseorang yang tampak sehat belum tentu memiliki tekanan darah, kadar glukosa, atau kadar kolesterol dalam batas normal. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala diperlukan untuk mendeteksi faktor risiko sejak dini.
Pencegahan dapat dilakukan melalui perubahan perilaku dan penerapan pola hidup sehat.
Pertama, mempertahankan durasi tidur yang cukup, yaitu sekitar 7–9 jam setiap malam bagi kebanyakan orang dewasa.
Kedua, menerapkan jadwal tidur dan bangun secara teratur untuk membantu menjaga keseimbangan ritme sirkadian.
Ketiga, membatasi penggunaan perangkat elektronik menjelang waktu tidur serta menghindari konsumsi kafein pada sore atau malam hari apabila mengganggu istirahat.
Keempat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menerapkan pola makan bergizi seimbang, serta menghindari kebiasaan merokok.
Kelima, melakukan pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, dan profil lipid secara berkala, terutama pada individu yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular.
Selain itu, masyarakat perlu mengenali tanda peringatan stroke, seperti wajah mencong mendadak, kelemahan lengan atau tungkai pada satu sisi tubuh, serta gangguan bicara. Apabila gejala tersebut muncul, pasien harus segera mendapatkan pertolongan medis darurat.
Kebiasaan begadang yang menyebabkan kurang tidur secara berkelanjutan memiliki hubungan dengan sejumlah faktor risiko stroke pada usia produktif. Gangguan tidur dapat memengaruhi tekanan darah, metabolisme glukosa, pengaturan berat badan, dan kesehatan pembuluh darah. Meskipun begadang bukan penyebab langsung stroke, kurang tidur kronis dapat menjadi bagian dari pola hidup yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, menjaga kualitas dan durasi tidur, menerapkan pola hidup sehat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah penting dalam pencegahan stroke sejak usia produktif.
1. Cappuccio, F. P., Cooper, D., D’Elia, L., Strazzullo, P., & Miller, M. A. (2011). Sleep duration predicts cardiovascular outcomes: A systematic review and meta-analysis of prospective studies. European Heart Journal, 32(12), 1484–1492. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehr007
2. Feigin, V. L., Brainin, M., Norrving, B., Martins, S., Sacco, R. L., Hacke, W., et al. (2022). World Stroke Organization (WSO): Global stroke fact sheet 2022. International Journal of Stroke, 17(1), 18–29. https://doi.org/10.1177/17474930211065917
3. Javaheri, S., & Redline, S. (2017). Insomnia and risk of cardiovascular disease. Chest, 152(2), 435–444. https://doi.org/10.1016/j.chest.2017.01.026
4. St-Onge, M. P., Grandner, M. A., Brown, D., Conroy, M. B., Jean-Louis, G., Coons, M., & Bhatt, D. L. (2016). Sleep duration and quality: Impact on lifestyle behaviors and cardiometabolic health: A scientific statement from the American Heart Association. Circulation, 134(18), e367–e386. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000000444
5. Watson, N. F., Badr, M. S., Belenky, G., Bliwise, D. L., Buxton, O. M., Buysse, D., et al. (2015). Recommended amount of sleep for a healthy adult: A joint consensus statement of the American Academy of Sleep Medicine and Sleep Research Society. Sleep, 38(6), 843–844. https://doi.org/10.5665/sleep.4716