Pondok Assyifa Bang Bari 082254825060
Rumah Quran Ratu Assyifa 082154442690
Rumah Herbal Indonesia 082213485345
Senin, 26 Okt 2026 Kat : Edukasi Kesehatan

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STROKE PADA ANAK USIA DINI

Sudah Dibaca Sebanyak : 6 Kali

Abstrak

Stroke merupakan gangguan neurologis yang tidak hanya terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia, tetapi juga dapat menyerang anak-anak, termasuk kelompok usia dini. Stroke pada anak atau pediatric stroke merupakan kondisi terganggunya aliran darah ke otak akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak. Kejadian stroke pada anak berkaitan dengan berbagai faktor risiko, seperti kelainan jantung bawaan, gangguan pembekuan darah, infeksi, kelainan pembuluh darah otak, serta penyakit genetik tertentu. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke pada anak usia dini berdasarkan kajian literatur ilmiah. Metode penulisan menggunakan pendekatan tinjauan pustaka naratif dengan menguraikan konsep stroke pada anak, mekanisme terjadinya penyakit, faktor risiko, manifestasi klinis, serta upaya pencegahan dan deteksi dini. Hasil kajian menunjukkan bahwa stroke pada anak memiliki karakteristik faktor risiko yang berbeda dibandingkan stroke pada orang dewasa. Oleh karena itu, pemahaman orang tua dan tenaga kesehatan mengenai faktor risiko serta tanda awal stroke sangat penting untuk mempercepat diagnosis dan penanganan medis.

Kata kunci: stroke anak, pediatric stroke, faktor risiko, penyakit serebrovaskular, deteksi dini.

Pendahuluan

Stroke merupakan salah satu gangguan sistem saraf yang dapat menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian. Dalam terminologi medis, stroke dikenal sebagai cerebrovascular disease, yaitu penyakit yang berkaitan dengan gangguan pembuluh darah otak. Meskipun stroke lebih sering ditemukan pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia, penyakit ini juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak.

Stroke pada anak atau pediatric stroke merupakan kondisi neurologis akut yang terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak. Berdasarkan mekanisme terjadinya, stroke dibedakan menjadi stroke iskemik (ischemic stroke) dan stroke hemoragik (hemorrhagic stroke). Stroke iskemik terjadi ketika pembuluh darah otak mengalami penyumbatan, sedangkan stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan di dalam atau sekitar otak.

Menurut Ferriero et al. (2019), stroke pada anak memiliki penyebab, karakteristik klinis, dan pendekatan penanganan yang berbeda dibandingkan stroke pada orang dewasa. Pada anak, faktor risiko sering berkaitan dengan penyakit jantung bawaan, kelainan pembuluh darah, infeksi, dan gangguan hematologi.

Stroke pada anak dapat menimbulkan gangguan perkembangan motorik, kemampuan berbicara, fungsi kognitif, serta aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pengenalan faktor risiko sejak dini merupakan bagian penting dalam upaya mengurangi dampak penyakit terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Konsep Stroke pada Anak Usia Dini

Stroke pada anak merupakan gangguan peredaran darah otak yang dapat terjadi sejak masa bayi baru lahir hingga usia remaja. Dalam kajian medis, stroke pada anak dibedakan menjadi perinatal stroke, yang terjadi pada periode sekitar kelahiran, dan childhood stroke, yang terjadi setelah periode neonatal.

Pada artikel ini, anak usia dini merujuk pada kelompok usia 0–6 tahun. Kelompok tersebut memiliki karakteristik perkembangan sistem saraf yang masih berlangsung secara aktif sehingga cedera otak dapat memengaruhi kemampuan motorik, bahasa, dan perkembangan kognitif.

Pada stroke iskemik, penyumbatan pembuluh darah menyebabkan berkurangnya suplai oksigen ke jaringan otak atau cerebral ischemia. Apabila berlangsung cukup lama, kondisi ini dapat menyebabkan kematian sel saraf atau neuronal cell death. Sementara itu, stroke hemoragik dapat menimbulkan peningkatan tekanan di dalam rongga kepala atau intracranial pressure, sehingga mengganggu fungsi jaringan otak di sekitarnya.

3. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stroke pada Anak

A. Penyakit Jantung Bawaan (Congenital Heart Disease)

Penyakit jantung bawaan merupakan salah satu faktor risiko penting stroke iskemik pada anak. Kelainan struktur jantung dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan meningkatkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah atau thrombus. Bekuan darah yang terbentuk di jantung dapat berpindah menuju pembuluh darah otak melalui proses cerebral embolism. Kondisi ini dapat menyebabkan penyumbatan arteri otak dan mengakibatkan stroke iskemik.

Risiko stroke juga dapat meningkat pada anak dengan penyakit jantung tertentu yang menjalani tindakan operasi atau intervensi jantung. Oleh karena itu, pemantauan kesehatan kardiovaskular diperlukan pada anak dengan riwayat penyakit jantung bawaan.

B. Gangguan Pembekuan Darah (Thrombophilia)

Gangguan pembekuan darah merupakan kondisi ketika sistem koagulasi mengalami kelainan sehingga darah memiliki kecenderungan membentuk bekuan secara berlebihan. Dalam istilah medis, keadaan ini disebut thrombophilia atau kondisi hiperkoagulabilitas (hypercoagulable state).

Beberapa kelainan yang dapat berkaitan dengan stroke pada anak meliputi defisiensi protein C (protein C deficiency), defisiensi protein S (protein S deficiency), dan sindrom antifosfolipid (antiphospholipid syndrome). Kelainan tersebut dapat meningkatkan risiko pembentukan trombus di pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak. Namun, tidak semua anak dengan kelainan pembekuan darah akan mengalami stroke karena risiko dipengaruhi oleh faktor lain.

C. Infeksi dan Peradangan (Infection and Inflammation)

Infeksi tertentu dapat menjadi faktor pemicu stroke pada anak melalui mekanisme peradangan pembuluh darah dan perubahan sistem pembekuan darah. Salah satu kondisi yang dikenal adalah post-infectious arteriopathy, yaitu gangguan pembuluh darah arteri yang muncul setelah infeksi tertentu.

Infeksi virus varisela-zoster (Varicella-zoster virus), penyebab cacar air, diketahui dapat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah otak pada sebagian anak. Selain itu, infeksi berat seperti meningitis bakterial (bacterial meningitis) dapat menyebabkan peradangan pembuluh darah dan meningkatkan risiko komplikasi serebrovaskular.

D. Kelainan Pembuluh Darah Otak (Cerebral Vasculopathy)

Kelainan pembuluh darah otak merupakan faktor penting dalam kejadian stroke anak. Salah satu contohnya adalah penyakit moyamoya (Moyamoya disease), yaitu gangguan pembuluh darah yang ditandai dengan penyempitan progresif arteri tertentu di dasar otak. Penyempitan tersebut dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah menuju jaringan otak dan meningkatkan risiko stroke iskemik.

Selain moyamoya, malformasi arteriovenosa (arteriovenous malformation atau AVM) merupakan kelainan hubungan antara arteri dan vena yang dapat meningkatkan risiko perdarahan otak. Kelainan pembuluh darah tersebut dapat bersifat bawaan maupun berkembang akibat kondisi penyakit tertentu.

E. Penyakit Genetik dan Kelainan Hematologi

Penyakit genetik tertentu dapat meningkatkan risiko stroke pada anak. Salah satu penyakit yang memiliki hubungan kuat dengan stroke adalah anemia sel sabit (sickle cell disease). Penyakit ini merupakan kelainan hemoglobin yang menyebabkan sel darah merah berubah bentuk sehingga dapat mengganggu aliran darah pada pembuluh darah kecil maupun besar. Anak dengan anemia sel sabit memiliki risiko mengalami penyempitan pembuluh darah otak dan stroke iskemik. Menurut American Heart Association, pemeriksaan dan pemantauan khusus pada anak dengan penyakit sel sabit merupakan bagian penting dari strategi pencegahan stroke.

F. Cedera Kepala dan Leher (Head and Neck Trauma)

Cedera kepala atau leher tertentu dapat menyebabkan kerusakan lapisan pembuluh darah, yang dikenal sebagai arterial dissection. Kerusakan tersebut dapat memicu pembentukan bekuan darah atau penyempitan pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko stroke iskemik. Meskipun tidak semua cedera menyebabkan stroke, kondisi neurologis yang muncul mendadak setelah trauma memerlukan pemeriksaan medis segera.

4. Tanda dan Gejala Stroke pada Anak

African Brain Child - Clinical Service
Pediatric Rehabilitation Unit | MUSC

Altman Foundation

8

Gejala stroke pada anak dapat berbeda sesuai usia, lokasi kerusakan otak, dan jenis stroke. Pada anak yang lebih besar, gejala dapat berupa kelemahan salah satu sisi tubuh (hemiparesis), kelumpuhan (hemiplegia), gangguan bicara (aphasia), serta gangguan koordinasi (ataxia). Pada bayi dan anak usia dini, gejala terkadang lebih sulit dikenali. Manifestasi yang dapat muncul meliputi kejang (seizures), penurunan kesadaran (altered consciousness), kelemahan anggota tubuh, atau perubahan perilaku secara mendadak.

Pada sebagian bayi dengan riwayat stroke perinatal, gangguan dapat baru dikenali beberapa bulan kemudian, misalnya penggunaan satu tangan secara dominan terlalu dini atau keterlambatan perkembangan motorik. Apabila anak mengalami kelemahan mendadak, kejang dengan gangguan kesadaran, atau gejala neurologis akut lainnya, orang tua perlu segera membawa anak ke instalasi gawat darurat.

5. Upaya Pencegahan dan Deteksi Dini

Pencegahan stroke pada anak perlu disesuaikan dengan faktor risiko yang dimiliki. Anak dengan penyakit jantung bawaan, gangguan pembekuan darah, atau kelainan pembuluh darah memerlukan pemantauan oleh tenaga medis yang sesuai. Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan berkala, evaluasi penyakit penyerta, serta pengamatan terhadap perkembangan motorik dan neurologis anak.

Perawat memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada orang tua mengenai tanda dan gejala stroke, pentingnya pengobatan penyakit penyerta, serta tindakan yang harus dilakukan ketika muncul keadaan darurat. Pendidikan kesehatan yang baik diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan keluarga dan mempercepat pengambilan keputusan untuk mendapatkan pertolongan medis.

6. Kesimpulan

Stroke pada anak usia dini merupakan gangguan neurologis serius yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko. Faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke meliputi penyakit jantung bawaan, gangguan pembekuan darah, infeksi, kelainan pembuluh darah otak, penyakit genetik, serta cedera kepala dan leher tertentu.

Faktor risiko stroke pada anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan stroke pada orang dewasa. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyebab, gejala, dan upaya deteksi dini perlu ditingkatkan, terutama pada orang tua dan tenaga kesehatan.

Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi serta mendukung perkembangan dan kualitas hidup anak.

Daftar Pustaka

1. Ferriero, D. M., Fullerton, H. J., Bernard, T. J., et al. (2019). Management of stroke in neonates and children: A scientific statement from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 50(3), e51–e96. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000183

2. Mallick, A. A., Ganesan, V., Kirkham, F. J., et al. (2014). Childhood arterial ischaemic stroke incidence, presenting features, and risk factors: A prospective population-based study. The Lancet Neurology, 13(1), 35–43. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(13)70290-4

3. Fullerton, H. J., Wu, Y. W., Zhao, S., & Johnston, S. C. (2003). Risk of stroke in children: Ethnic and gender disparities. Neurology, 61(2), 189–194. https://doi.org/10.1212/01.WNL.0000078894.79866.95

4. Mackay, M. T., Wiznitzer, M., Benedict, S. L., et al. (2011). Arterial ischemic stroke risk factors: The International Pediatric Stroke Study. Annals of Neurology, 69(1), 130–140. https://doi.org/10.1002/ana.22224

5. deVeber, G. A., Kirton, A., Booth, F. A., et al. (2017). Epidemiology and outcomes of arterial ischemic stroke in children: The Canadian Pediatric Ischemic Stroke Registry. Pediatric Neurology, 69, 58–70. https://doi.org/10.1016/j.pediatrneurol.2017.01.016

6. Amlie-Lefond, C., Sébire, G., Fullerton, H. J. (2008). Recent developments in childhood arterial ischaemic stroke. The Lancet Neurology, 7(5), 425–435. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(08)70086-3

Informasi Publik Lainnya