
Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian, kecacatan, dan penurunan kualitas hidup. Penyakit ini terjadi akibat gangguan aliran darah menuju otak, baik karena penyumbatan maupun perdarahan pembuluh darah. Salah satu faktor penting yang berhubungan dengan risiko stroke adalah pola hidup masyarakat. Kebiasaan merokok, kurang melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi makanan tinggi garam dan lemak tidak sehat, serta kurang menjaga berat badan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke. Artikel ini bertujuan menjelaskan hubungan pola hidup dengan risiko terjadinya stroke berdasarkan kajian ilmiah. Pemahaman mengenai faktor risiko yang dapat dimodifikasi diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat sebagai upaya pencegahan stroke.
Kata kunci: pola hidup, stroke, faktor risiko, hipertensi, aktivitas fisik, pencegahan stroke.
Stroke merupakan gangguan neurologis akut yang terjadi akibat terganggunya suplai darah ke jaringan otak. Kondisi tersebut menyebabkan sel-sel otak mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga dapat menimbulkan gangguan fungsi saraf, kecacatan permanen, bahkan kematian. Secara umum, stroke terbagi menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemik akibat penyumbatan pembuluh darah otak dan stroke hemoragik akibat pecahnya pembuluh darah. Kedua kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera.
Menurut Feigin et al. (2021), stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas secara global. Beban penyakit stroke dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pertambahan usia, kondisi sosial ekonomi, penyakit penyerta, dan faktor risiko perilaku.Pola hidup memiliki peranan penting dalam kesehatan pembuluh darah. Masyarakat yang memiliki kebiasaan merokok, jarang berolahraga, mengonsumsi makanan tidak sehat, serta tidak melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin berpotensi mengalami peningkatan risiko stroke.
O’Donnell et al. (2016), melalui penelitian INTERSTROKE di 32 negara, menemukan bahwa sejumlah faktor risiko yang dapat dimodifikasi berkaitan dengan sebagian besar kejadian stroke dalam populasi penelitian. Temuan tersebut memperkuat pentingnya perubahan perilaku dan pengendalian faktor risiko dalam pencegahan stroke.
Merokok merupakan salah satu faktor risiko penting terjadinya stroke. Kandungan zat berbahaya dalam asap rokok dapat merusak lapisan pembuluh darah, meningkatkan kecenderungan pembentukan bekuan darah, serta mempercepat proses aterosklerosis.
Aterosklerosis merupakan kondisi penumpukan plak pada dinding pembuluh darah yang dapat mempersempit aliran darah. Apabila pembuluh darah yang memasok otak mengalami penyumbatan, kondisi tersebut dapat menyebabkan stroke iskemik.
Penelitian INTERSTROKE menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berhubungan dengan peningkatan risiko stroke. Oleh karena itu, penghentian kebiasaan merokok merupakan langkah penting dalam upaya pencegahan penyakit serebrovaskular (O’Donnell et al., 2016).
Aktivitas fisik yang rendah merupakan salah satu karakteristik pola hidup sedentari. Kondisi ini sering ditemukan pada masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk, bekerja di depan komputer, atau menggunakan perangkat elektronik tanpa aktivitas fisik yang memadai. Kurangnya aktivitas fisik dapat berkontribusi terhadap obesitas, hipertensi, resistensi insulin, dan gangguan metabolisme lemak. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Menurut World Health Organization (2020), orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu.
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, tinggi lemak jenuh, rendah serat, serta kurang mengonsumsi buah dan sayuran dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah. Asupan natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan pola makan tidak sehat dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap obesitas dan gangguan kadar lemak darah.
Pola makan seimbang yang mencakup sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein sehat dapat membantu mengendalikan faktor risiko kardiovaskular. Penelitian O’Donnell et al. (2016) mengidentifikasi kualitas pola makan sebagai salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke.
Obesitas merupakan kondisi penumpukan lemak tubuh secara berlebihan yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik. Individu dengan obesitas lebih berisiko mengalami hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dan gangguan kadar kolesterol.
Penelitian INTERSTROKE menemukan bahwa rasio lingkar pinggang terhadap pinggul yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko stroke. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengendalian berat badan dan lemak abdominal sebagai bagian dari pencegahan penyakit serebrovaskular (O’Donnell et al., 2016).
Konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan tekanan darah dan berhubungan dengan gangguan irama jantung serta peningkatan risiko stroke.
Penelitian O’Donnell et al. (2016) menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi alkohol berat atau episodik berlebihan dengan kejadian stroke. Oleh karena itu, menghindari konsumsi alkohol merupakan salah satu pilihan untuk mengurangi faktor risiko kesehatan yang dapat dimodifikasi.
Stres psikologis berkepanjangan dapat memengaruhi perilaku kesehatan, pola tidur, dan pengendalian tekanan darah. Seseorang yang mengalami stres juga dapat memiliki kecenderungan merokok, makan tidak teratur, atau mengurangi aktivitas fisik. Gangguan tidur juga perlu diperhatikan karena kualitas dan durasi tidur merupakan bagian penting dari kesehatan kardiovaskular.
Pedoman American Heart Association/American Stroke Association (2024) menekankan pentingnya pola hidup sehat, termasuk tidur yang cukup dan pengendalian faktor risiko kardiovaskular, dalam upaya pencegahan stroke.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko stroke yang paling penting. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah, mempercepat aterosklerosis, serta meningkatkan risiko pecahnya pembuluh darah otak.
Temuan penelitian INTERSTROKE
Risiko dalam bentuk odds kejadian stroke pada kelompok dengan riwayat hipertensi atau tekanan darah ≥140/90 mmHg dibandingkan kelompok referensi.Odds ratio (OR) 2,98; bukan berarti setiap individu memiliki probabilitas stroke 2,98 kali lebih besar. Penelitian observasional pada 26.919 peserta dari 32 negara.
Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala yang jelas sehingga seseorang dapat mengalami tekanan darah tinggi tanpa menyadarinya. Oleh sebab itu, pemeriksaan tekanan darah secara berkala sangat diperlukan, terutama bagi masyarakat dengan riwayat hipertensi dalam keluarga, obesitas, diabetes, atau faktor risiko lainnya.
Pencegahan stroke dapat dilakukan melalui penerapan perilaku hidup sehat secara konsisten. Upaya ini perlu dimulai sebelum seseorang mengalami gejala penyakit.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat diterapkan masyarakat meliputi:
Pedoman pencegahan stroke AHA/ASA tahun 2024 merekomendasikan pengendalian faktor risiko sejak dini, pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, dan pemantauan kondisi medis yang dapat meningkatkan risiko stroke (Bushnell et al., 2024).
Tenaga kesehatan, khususnya perawat, memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko stroke.
Perawat dapat melaksanakan pendidikan kesehatan, skrining tekanan darah, identifikasi faktor risiko, konseling perubahan perilaku, serta pemantauan kepatuhan pengobatan pada pasien dengan penyakit kronis.
Pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bahwa stroke tidak hanya dipengaruhi faktor keturunan dan usia, tetapi juga berkaitan dengan faktor risiko yang dapat dikendalikan.
Pola hidup memiliki hubungan yang erat dengan risiko terjadinya stroke pada masyarakat. Kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, obesitas, konsumsi alkohol berlebihan, dan kurangnya pengendalian penyakit kronis merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Hipertensi menjadi salah satu faktor risiko terpenting yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Perubahan pola hidup sehat disertai pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko stroke.
Dengan demikian, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat perlu menjadi bagian dari program pendidikan kesehatan dan pencegahan penyakit tidak menular.
Pesan kesehatan: Stroke dapat menyerang siapa saja. Menjaga pola hidup sehat sejak dini merupakan investasi penting untuk melindungi kesehatan otak, jantung, dan pembuluh darah.
Format APA, dengan tautan DOI untuk penelusuran jurnal.
1. Bushnell, C., Kernan, W. N., Sharrief, A. Z., et al. (2024). 2024 guideline for the primary prevention of stroke: A guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 55(12), e344–e424. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000475
2. O’Donnell, M. J., Chin, S. L., Rangarajan, S., et al. (2016). Global and regional effects of potentially modifiable risk factors associated with acute stroke in 32 countries (INTERSTROKE): A case-control study. The Lancet, 388(10046), 761–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)30506-2
3. GBD 2019 Stroke Collaborators. (2021). Global, regional, and national burden of stroke and its risk factors, 1990–2019: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet Neurology, 20(10), 795–820. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(21)00252-0
4. World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128
5. American Heart Association. (2024). 2024 guideline for the primary prevention of stroke: Top things to know. American Heart Association.