Pondok Assyifa Bang Bari 082254825060
Rumah Quran Ratu Assyifa 082154442690
Rumah Herbal Indonesia 082213485345
Kamis, 22 Okt 2026 Kat : Edukasi Kesehatan

STROKE PADA USIA DINI: ANCAMAN KESEHATAN YANG JARANG DISADARI ORANG TUA

Sudah Dibaca Sebanyak : 10 Kali

Abstrak

Stroke merupakan salah satu penyakit neurologis serius yang umumnya dikenal sebagai penyakit pada orang dewasa dan lanjut usia. Namun, stroke juga dapat terjadi pada bayi, anak-anak, dan remaja. Kondisi ini sering kali kurang disadari oleh orang tua karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain, seperti kejang, migrain, infeksi, atau gangguan neurologis lainnya.

Stroke pada anak dapat menyebabkan gangguan fungsi motorik, kesulitan berbicara, gangguan kognitif, hingga kecacatan jangka panjang apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Penyebab stroke pada anak berbeda dengan orang dewasa, antara lain penyakit jantung bawaan, kelainan pembuluh darah otak, gangguan pembekuan darah, serta penyakit tertentu yang memengaruhi sistem peredaran darah.

Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman ilmiah kepada masyarakat mengenai penyebab, faktor risiko, gejala, dampak, penanganan, dan pencegahan stroke pada usia dini berdasarkan literatur kesehatan.

Kata kunci: stroke anak, stroke usia dini, gangguan neurologis, faktor risiko, deteksi dini, kesehatan anak.

Pendahuluan

Stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika aliran darah menuju bagian otak terganggu akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Gangguan tersebut dapat mengurangi suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak sehingga menyebabkan kerusakan sel-sel saraf.

Selama ini, masyarakat lebih mengenal stroke sebagai penyakit yang menyerang orang dewasa, terutama individu dengan hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok. Padahal, stroke juga dapat terjadi pada kelompok usia anak.

Menurut Ferriero et al. (2019), stroke pada anak memiliki karakteristik klinis, penyebab, serta pendekatan penanganan yang berbeda dibandingkan stroke pada orang dewasa. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan pengetahuan orang tua dan tenaga kesehatan mengenai pengenalan gejala stroke pada usia dini.

Stroke anak dapat berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangan. Gangguan neurologis akibat stroke tidak hanya memengaruhi kemampuan bergerak, tetapi juga berpotensi mengganggu perkembangan bahasa, kemampuan belajar, perilaku, dan kualitas hidup anak.

Pengertian Stroke pada Usia Dini

Stroke pada usia dini dalam artikel ini merujuk pada stroke yang terjadi pada bayi, anak-anak, dan remaja. Dalam literatur medis, stroke anak atau pediatric stroke umumnya mencakup stroke pada usia neonatal hingga sebelum usia 18 tahun. Stroke dibedakan menjadi dua jenis utama.

A. Stroke iskemik

Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya aliran darah menuju jaringan otak. Penyumbatan dapat disebabkan oleh bekuan darah atau kelainan pembuluh darah tertentu.

B. Stroke hemoragik

Stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan di dalam atau sekitar otak. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kelainan pembuluh darah, gangguan pembekuan, maupun penyakit lainnya.

Kedua jenis stroke tersebut memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis segera karena berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan otak yang menetap (Ferriero et al., 2019).

Penyebab Stroke pada Anak

Penyebab stroke pada anak tidak selalu sama dengan orang dewasa. Beberapa kondisi medis yang diketahui dapat meningkatkan risiko stroke pada anak antara lain:

1. Penyakit jantung bawaan. Kelainan struktur atau fungsi jantung tertentu dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang kemudian menyumbat pembuluh darah otak.

2. Kelainan pembuluh darah otak. Penyakit moyamoya, arteriopati, dan malformasi pembuluh darah dapat mengganggu sirkulasi darah menuju otak.

3. Gangguan pembekuan darah. Kelainan tertentu dapat menyebabkan darah lebih mudah membeku atau meningkatkan risiko perdarahan.

4. Penyakit sel sabit (sickle cell disease). Penyakit darah keturunan ini dapat meningkatkan risiko stroke iskemik pada anak.

5. Infeksi dan peradangan. Infeksi tertentu dapat memicu proses peradangan pada pembuluh darah yang berkaitan dengan peningkatan risiko stroke.

6. Cedera pembuluh darah leher atau kepala. Pada kondisi tertentu, cedera dapat menyebabkan kerusakan lapisan pembuluh darah yang meningkatkan risiko gangguan aliran darah ke otak.

Menurut Fullerton et al. (2015), infeksi dan faktor yang berkaitan dengan arteriopati memiliki peran penting dalam kejadian stroke iskemik pada anak.

Seberapa Sering Stroke Terjadi pada Anak?

Stroke pada anak tergolong lebih jarang dibandingkan stroke pada orang dewasa. Namun, dampaknya dapat berlangsung sepanjang kehidupan anak. Perkiraan kejadian stroke anak di negara maju 3–25 kasus per 100.000 anak per tahunRentang mencakup stroke neonatal dan masa kanak-kanak, baik iskemik maupun hemoragik, dengan variasi antarpenelitian. Sumber: American Heart Association (2019). Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun stroke anak relatif jarang, kondisi ini tetap penting diperhatikan. Stroke dapat terjadi bahkan pada anak yang sebelumnya terlihat sehat.

Dampak Stroke terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Stroke dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang memengaruhi perkembangan anak. Dampaknya berbeda-beda, tergantung lokasi dan luas kerusakan otak, usia anak, serta keberhasilan penanganan.Beberapa dampak yang dapat terjadi meliputi gangguan gerak, kelemahan otot, kesulitan berbicara, gangguan memori, kesulitan belajar, serta masalah emosi dan perilaku.Pada anak, dampak stroke terkadang baru terlihat ketika tuntutan perkembangan semakin meningkat, misalnya saat memasuki usia sekolah. Ferriero et al. (2019) menekankan pentingnya pemantauan perkembangan neurologis dan rehabilitasi jangka panjang bagi anak yang mengalami stroke.

Penanganan dan Rehabilitasi Stroke pada Anak

Penanganan stroke anak harus dilakukan di rumah sakit melalui pemeriksaan medis yang sesuai.Pemeriksaan dapat meliputi CT scan atau MRI otak, pemeriksaan pembuluh darah, pemeriksaan jantung, dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab stroke.Setelah kondisi akut tertangani, rehabilitasi dapat membantu meningkatkan kemampuan fungsional anak. Program rehabilitasi dapat melibatkan fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dukungan psikologis, dan pendampingan keluarga.Terapi diberikan berdasarkan kondisi neurologis, kebutuhan perkembangan, serta evaluasi dokter dan tenaga rehabilitasi. Pengobatan stroke iskemik dan hemoragik berbeda sehingga diagnosis yang tepat sangat penting.

Pencegahan Stroke pada Anak

Tidak semua kejadian stroke anak dapat dicegah. Namun, sejumlah upaya dapat membantu mengurangi risiko, terutama pada anak yang memiliki kondisi medis tertentu.Pencegahan meliputi pemeriksaan rutin pada anak dengan penyakit jantung bawaan, pemantauan kelainan darah dan pembuluh darah, imunisasi sesuai rekomendasi, serta penanganan infeksi dan penyakit kronis secara tepat. Penelitian Fullerton et al. (2015) menunjukkan adanya hubungan antara infeksi yang baru terjadi dan peningkatan risiko stroke iskemik pada anak. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara kelengkapan vaksinasi dan risiko stroke yang lebih rendah, meskipun temuan observasional ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Orang tua juga dianjurkan membiasakan anak menjalani pola hidup sehat, termasuk aktivitas fisik, makanan bergizi, dan tidur cukup. Kebiasaan tersebut bermanfaat bagi kesehatan secara umum, meskipun tidak dapat menjamin pencegahan seluruh jenis stroke pada anak.

Kesimpulan

Stroke pada usia dini merupakan ancaman kesehatan serius yang masih kurang dikenal masyarakat. Penyakit ini dapat menyerang bayi, anak-anak, maupun remaja dan berpotensi menyebabkan gangguan neurologis jangka panjang.Penyebab stroke pada anak umumnya berbeda dari stroke pada orang dewasa. Penyakit jantung bawaan, kelainan pembuluh darah, gangguan pembekuan darah, serta infeksi tertentu merupakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan.Peningkatan pengetahuan orang tua mengenai tanda dan gejala stroke menjadi bagian penting dalam deteksi dini. Penanganan medis yang cepat, diagnosis yang tepat, serta rehabilitasi berkelanjutan dapat membantu memperbaiki hasil pemulihan anak.Stroke bukan hanya penyakit orang dewasa. Kenali gejalanya sejak dini karena penanganan cepat dapat menyelamatkan fungsi otak dan masa depan anak.

Daftar Pustaka Ilmiah

Referensi jurnal dan sumber ilmiah yang dapat ditelusuri melalui DOI atau situs resmi.

1. Ferriero, D. M., Fullerton, H. J., Bernard, T. J., et al. (2019). Management of stroke in neonates and children: A scientific statement from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 50, e51–e96. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000183

2. Fullerton, H. J., Hills, N. K., Elkind, M. S. V., et al. (2015). Infection, vaccination, and childhood arterial ischemic stroke: Results of the VIPS study. Neurology, 85(17), 1459–1466. https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000002065

3. Hills, N. K., Sidney, S., & Fullerton, H. J. (2014). Timing and number of minor infections as risk factors for childhood arterial ischemic stroke. Neurology, 83(10), 890–897. https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000000752

4. Elkind, M. S. V., Hills, N. K., Glaser, C. A., et al. (2016). Herpesvirus infections and childhood arterial ischemic stroke: Results of the VIPS study. Circulation, 133(8), 732–741. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.115.018595

5. American Heart Association. (2019). Management of stroke in neonates and children: Top things to know. Sumber resmi AHA

6. American Stroke Association. Stroke in children. Panduan stroke anak.

Informasi Publik Lainnya