
Stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan neurologis yang tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga dapat menyerang bayi, anak-anak, dan remaja. Stroke pada anak terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak atau pecahnya pembuluh darah otak sehingga menyebabkan kerusakan jaringan saraf. Meskipun relatif jarang ditemukan, stroke pediatrik dapat menimbulkan dampak serius berupa gangguan motorik, gangguan kognitif, epilepsi, kecacatan jangka panjang, hingga kematian. Diagnosis stroke pada anak sering mengalami keterlambatan karena gejalanya menyerupai penyakit neurologis lainnya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai faktor risiko, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan, serta pencegahan sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan tenaga kesehatan.
Kata kunci: stroke pediatrik, stroke anak, gangguan neurologis, faktor risiko, rehabilitasi, pencegahan.
Stroke merupakan gangguan fungsi neurologis yang terjadi akibat terganggunya suplai darah menuju jaringan otak. Selama ini, stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang kelompok usia lanjut. Namun, berdasarkan kajian neurologi pediatrik, stroke juga dapat terjadi sejak masa neonatal hingga usia remaja. Stroke pada anak merupakan masalah kesehatan serius karena otak sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
Berbeda dengan stroke pada orang dewasa yang sering berhubungan dengan hipertensi, diabetes melitus, dan aterosklerosis, stroke pada anak lebih sering berkaitan dengan kelainan jantung bawaan, gangguan pembekuan darah, penyakit pembuluh darah, infeksi, serta kelainan hematologis tertentu. Perbedaan karakteristik tersebut menyebabkan pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan stroke pediatrik memerlukan perhatian khusus (Ferriero et al., 2019).
Keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko kerusakan neurologis dan mengurangi kesempatan memperoleh penanganan yang optimal. Oleh sebab itu, edukasi mengenai stroke pada anak diperlukan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengenali tanda bahaya sejak dini.
Stroke pada anak adalah gangguan neurologis akut akibat gangguan pembuluh darah otak yang dapat terjadi pada usia 29 hari hingga kurang dari 18 tahun. Stroke yang terjadi pada periode neonatal umumnya dibahas sebagai kategori tersendiri.
Secara umum, stroke pada anak dibedakan menjadi dua jenis utama.
Stroke iskemik terjadi ketika pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke jaringan otak mengalami penyumbatan. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya aliran darah sehingga sel-sel otak mengalami cedera dan dapat mengalami kematian.
Stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di dalam otak atau ruang sekitarnya. Perdarahan dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
Kedua jenis stroke tersebut dapat menimbulkan gangguan neurologis permanen apabila tidak segera memperoleh penanganan medis yang tepat (Ferriero et al., 2019).
Stroke pediatrik tergolong penyakit yang relatif jarang, tetapi memiliki konsekuensi kesehatan yang besar. Berdasarkan systematic review dan meta-analisis global tahun 2026, angka kejadian stroke pada anak diperkirakan mencapai 3,73 kasus per 100.000 anak per tahun pengamatan. Angka tersebut dapat bervariasi berdasarkan wilayah, metode penelitian, dan karakteristik populasi.
Meskipun angka kejadiannya lebih rendah dibandingkan pada orang dewasa, stroke anak memerlukan perhatian karena dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak, keterbatasan aktivitas sehari-hari, dan kebutuhan rehabilitasi dalam jangka panjang.
Beberapa kondisi medis yang meningkatkan risiko terjadinya stroke pada anak meliputi:
Faktor risiko tersebut dapat muncul secara tunggal maupun bersamaan. Pada sebagian anak, penyebab stroke tetap tidak diketahui meskipun pemeriksaan telah dilakukan secara menyeluruh (Ferriero et al., 2019; Janas et al., 2023).
Gejala stroke pada anak dapat muncul secara mendadak dan sering menyerupai penyakit lain, seperti migrain, epilepsi, atau gangguan infeksi sistem saraf. Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda neurologis yang tidak biasa.
Berikut tanda peringatan stroke berdasarkan prinsip BE FAST:
| Komponen | Tanda bahaya |
|---|---|
| B – Balance | Kehilangan keseimbangan atau kesulitan berjalan secara mendadak |
| E – Eyes | Gangguan penglihatan secara tiba-tiba |
| F – Face | Wajah mencong atau salah satu sisi wajah melemah |
| A – Arms | Kelemahan atau kelumpuhan satu sisi tubuh |
| S – Speech | Bicara pelo, sulit berbicara, atau memahami perkataan |
| T – Time | Segera mencari pertolongan medis darurat |
Selain itu, stroke pada anak dapat ditandai kejang yang baru muncul, sakit kepala hebat secara mendadak, muntah, penurunan kesadaran, dan perubahan perilaku akut. Pada bayi, tanda stroke dapat berupa kejang atau kelemahan gerak yang tidak simetris (American Stroke Association, 2026).
Apabila anak mengalami salah satu gejala tersebut secara mendadak, segera bawa ke instalasi gawat darurat (IGD). Jangan menunggu gejala membaik atau melakukan pijat sebagai pengganti pemeriksaan medis.
Stroke dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup anak. Beratnya komplikasi bergantung pada lokasi kerusakan otak, luas cedera, usia anak, serta kecepatan penanganan.
Dampak yang dapat terjadi meliputi gangguan motorik berupa kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak, gangguan kemampuan berbicara, penurunan daya ingat, kesulitan belajar, serta gangguan perhatian dan perilaku.
Selain itu, sebagian anak mengalami epilepsi pascastroke akibat perubahan aktivitas listrik otak. Gangguan emosional, kecemasan, dan kesulitan bersosialisasi juga dapat terjadi, terutama ketika anak mengalami keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Janas et al. (2023) menjelaskan bahwa stroke pada masa perinatal dan anak-anak berhubungan dengan morbiditas neurologis jangka panjang, termasuk gangguan motorik, perkembangan kognitif, bahasa, dan epilepsi.
Penanganan stroke pediatrik harus dilakukan secara cepat dan melibatkan tim multidisiplin, antara lain dokter anak, dokter spesialis saraf anak, perawat, serta tenaga rehabilitasi.
Pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI otak diperlukan untuk menentukan jenis stroke dan lokasi kerusakan. Pemeriksaan darah, jantung, serta pembuluh darah dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebabnya.
Terapi medis disesuaikan dengan jenis stroke, kondisi klinis, dan penyebab yang mendasari. Obat antitrombotik, tindakan endovaskular, atau pembedahan hanya diberikan berdasarkan indikasi dan penilaian dokter spesialis.
Setelah kondisi akut stabil, rehabilitasi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Fisioterapi membantu meningkatkan kemampuan gerak, terapi okupasi mendukung aktivitas sehari-hari, sedangkan terapi wicara membantu mengatasi gangguan komunikasi dan menelan. Dukungan psikologis dan keterlibatan keluarga juga diperlukan untuk mendukung perkembangan anak (Ferriero et al., 2019).
Tidak semua kejadian stroke pada anak dapat dicegah. Namun, risiko pada kelompok tertentu dapat dikurangi melalui identifikasi dan pengelolaan penyakit yang mendasarinya.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan pada anak dengan penyakit jantung bawaan, kelainan pembuluh darah, gangguan pembekuan darah, atau penyakit sel sabit. Penanganan infeksi dan penyakit kronis harus dilakukan sesuai anjuran dokter.
Orang tua juga perlu mendukung pola hidup sehat melalui pemenuhan gizi seimbang, aktivitas fisik sesuai kemampuan, serta menghindarkan anak dari paparan asap rokok. Upaya tersebut mendukung kesehatan pembuluh darah, meskipun tidak dapat mencegah seluruh penyebab stroke pediatrik.
Edukasi keluarga mengenai gejala stroke merupakan langkah penting untuk mengurangi keterlambatan diagnosis dan mempercepat akses terhadap pelayanan kesehatan.
Stroke pada anak merupakan kegawatdaruratan neurologis yang dapat menyebabkan kecacatan permanen, gangguan perkembangan, epilepsi, bahkan kematian. Meskipun jarang terjadi, dampaknya dapat memengaruhi kehidupan anak hingga usia dewasa.
Pengenalan gejala secara dini, pemeriksaan medis yang cepat, pengobatan sesuai penyebab, serta rehabilitasi berkelanjutan merupakan komponen penting dalam meningkatkan hasil pemulihan.
Peran keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat diperlukan dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap stroke pediatrik. Dengan penanganan yang tepat, anak yang mengalami stroke memiliki peluang untuk mencapai pemulihan fungsi dan kualitas hidup yang lebih baik.
1. Ferriero, D. M., Fullerton, H. J., Bernard, T. J., et al. (2019). Management of stroke in neonates and children: A scientific statement from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke, 50(3), e51–e96. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000183
2. Janas, A. M., Barry, M., & Lee, S. (2023). Epidemiology, causes, and morbidities of stroke in the young. Current Opinion in Pediatrics, 35(6), 641–647. https://doi.org/10.1097/MOP.0000000000001294
3. American Heart Association. (2019). Top things to know: Management of stroke in neonates and children. American Heart Association.
4. American Stroke Association. (n.d.). Stroke in children. American Stroke Association.
5. Global Pediatric Stroke Epidemiology: A Systematic Review of the Literature and Meta-Analysis. (2026). Journal of Child Neurology, 41(8), 1220–1228. https://doi.org/10.1177/08830738261441084